Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa yang Diajar dengan Menggunakan Pembelajaran Kooperatif Teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD di Kelas VII SMP

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang Masalah

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mempunyai peranan sangat penting dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia, karena melalui pendidikan di sekolah dapat dihasilkan manusia yang cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab. Kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diperolehnya. Jika kualitas pendidikan makin tinggi, maka kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan akan meningkat. Peningkatan kualitas pendidikan tidak lepas dari upaya peningkatan komponen-komponen yang terdapat di dalamnya yang saling terikat erat satu sama lainnya dalam satu sistem, yaitu guru, metode pengajaran, kurikulum, siswa, sarana dan prasarana sekolah dan lain-lain.

Masa depan seseorang salah satunya ditentukan oleh tingkat pendidikan orang tersebut. Tingkah pendidikan ini dipengaruhi oleh pemahaman orang tersebut akan materi yang dipelajari. Seperti yang kita ketahui dalam masyarakat dewasa ini, banyak siswa belum memahami konsep-konsep dari materi yang diterima meskipun sudah mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik. Sebagian besar siswa belum mampu menghubungkan antara yang mereka pelajari dengan cara pemanfaatan materi tersebut. Akibatnya, siswa tidak dapat menerapkan pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan sehari-hari.

Rendahnya tingkat pemahaman siswa ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah metode pembelajaran yang digunakan. Metode pembelajaran klasikal merupakan metode pembelajaran yang sering dipakai oleh guru karena dianggap sebagai metode pembelajaran yang paling mudah untuk dilaksanakan. Menurut Suherman dalam pembelajaran klasikal, guru sangat mendominasi untuk menentukan semua kegiatan pembelajaran, banyaknya materi yang diajarkan, urutan materi pelajaran, kecepatan guru mengajar dan lain-lain sepenuhnya ada di tangan guru. Hal ini membuat guru berperan aktif sedangkan siswa lebih pasif sehingga kurang dapat menyerap sampai tuntas materi yang disajikan guru.

Matematika sebagai sarana berpikir deduktif merupakan salah satu pelajaran penting dan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat matematika sebagai salah satu pelajaran yang di UN-kan dan berada di setiap jenjang pendidikan. Dalam mempelajari matematika, sangat dibutuhkan pemahaman siswa untuk menyelesaikan suatu masalah terutama masalah-masalah yang cukup kompleks. Oleh sebab itu, metode pembelajaran klasikal kurang sesuai digunakan dalam pembelajaran matematika karena kurang dapat menggali pemahaman siswa.

Sebagai tenaga pendidik, guru memiliki beberapa pilihan untuk mengajarkan siswa dengan berbagai metode pembelajaran yang dapat membuat siswa memahami pelajaran dengan baik. Namun, kendala yang terjadi di lapangan adalah kurangnya kemampuan guru dalam menerapkan metode-metode pembelajaran tersebut. Hal ini disebabkan berbagai faktor seperti kurangnya pengetahuan dan motivasi guru untuk mempelajari dan menggunakan metode pembelajaran lain selain metode pembelajaran klasikal.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa adalah metode pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa yang bekerja sebagai sebuah tim untuk meyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan tugas, atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama lainnya. Hal ini membuat siswa lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran sehingga tercapailah pemahaman yang baik bagi siswa. Dalam metode pembelajaran ini, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi siswa untuk memecahkan masalah dan tetap mengawasi proses pembelajaran serta memberikan arahan kepada siswa apabila terjadi perbedaan pendapat dan ada siswa yang belum dapat memecahkan masalah yang dipelajari.

Terdapat beberapa teknik dalam metode pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah Numbered Heads Together (NHT), Jigsaw II, dan Student Teams-Achievement Divisions (STAD). Dalam pembelajaran kooperatif teknik NHT mempunyai cirri khas yaitu seorang guru hanya menunjuk seorang siswa dengan menyebutkan nomor yang mewakili kelompok itu sehingga masing-masing anggota kelompok harus paham dengan hasil kerja kelompoknya. Dalam NHT ini pula dapat dipastikan seluruh siswa akan terlibat total dalam pembelajaran. Kelebihan dalam NHT ini yaitu setiap siswa menjadi siap mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh dan siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai dalam proses pembelajaran.

Dalam metode pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II, siswa dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil dan heterogen yang terdiri dari 4-5 orang. Masing-masing anggota kelompok diberi bagian materi yang berbeda, kemudian anggota dari tiap kelompok yang mempelajari bagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan materi yang ditugaskan. Setelah selesai diskusi sebagai kelompok ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu kelompok tentang materi yang ditugaskan dan anggota kelompok mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya satu atau dua kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok kemudian pada akhir pelajaran setiap siswa diberikan kuis yang dikerjakan secara individu.

Sama halnya dengan NHT dan Jigsaw II, metode pembelajaran kooperatif teknik Student Teams-Achievement Division (STAD) juga mengelompokkan siswa menjadi kelompok-kelompok kecil dan heterogen yang terdiri dari 4-5 orang. Dalam STAD, setelah guru terlebih dahulu menyajikan materi, siswa bekerja dalam kelompok mereka dan memastikan seluruh anggota kelompok telah menguasai materi yang diajarkan kemudian mengerjakan tugas yang diberikan. Dengan teknik ini siswa dapat mengeluarkan ide-ide meraka, mendiskusikannya dan menentukan jawaban yang paling tepat dari suatu masalah yang diberikan. Kegiatan diakhiri dengan pemberian kuis kepada siswa yang akan dikerjakan oleh siswa secara individu untuk menguji pemahaman siswa.

Peran aktif siswa dalam proses pembelajaran tentu dapat menunjang proses pembelajaran karena siswa dapat lebih memahami konsep yang diterimanya. Metode pembelajaran kooperatif teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD dipilih sebagai metode pembelajaran alternative untuk memecahkan beberapa masalah yang dihadapi dalam upaya mengaktifkan siswa dalam belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan demikian dalam penelitian ini akan diteliti apakah terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD.

B.       Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka identifikasi masalah diuraikan sebagai berikut :

  1. Faktor apa saja yang menyebabkan rendahnya tingkat pemahaman siswa?
  2. Bagaimana cara agar siswa terlibat aktif pada saat proses pembelajaran?
  3. Apakah penggunaan pembelajaran kooperatif di kelas dapat membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran?
  4. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT dan Jigsaw II?
  5. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT dan STAD?
  6. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II dan STAD?

C.      Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini menjadi jelas dan lebih terarah maka masalah yang diteliti dibatasi hanya pada perbandingan hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD di kelas VII SMP.

D.      Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskan apakah terdapat perbandingan antara siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD di kelas VII SMP

E.       Tujuan Umum Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan memperoleh alternatif pembelajaran yang berorientasi pada siswa, meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan permasalahan matematika, meningkatkan motivasi belajar matematika siswa, menghilangkan individualisme dan menumbuhkan rasa kebersamaan, menciptakan suasana belajar yang konduktif, efektif, dan menyenangkan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

F.       Kegunaan Penelitian

Bagi siswa

Agar lebih berani mengeluarkan pendapat pada saat pembelajaran di kelas, khususnya dalam pembelajaran matematika, mengembangkan kemampuan sosialisasi siswa sehingga hasil belajar matematika akan meningkat.

Bagi guru

Memberikan alternatif pembelajaran di kelas untuk diterapkan dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan memperhatikan perbedaan siswa dalam hal belajar dan kemampuan memahami pelajaran sehingga hasil belajar matematika yang optimal.

Bagi sekolah

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan mutu sekolah.

Bagi peneliti

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pedoman pembelajaran saat menjadi guru kelak.

BAB II

KAJIAN TEORETIK DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.      Deskripsi Teoretik

            1.    Belajar Matematika dan Hasil Belajar Matematika

Menurut Herman Hudojo matematika adalah suatu alat untuk mengembangkan cara berpikir, karena itu matematika sangat diperlukan baik untuk kehidupan sehari-hari maupun dalam menghadapi kemajuan IPTEK sehingga matematika perlu dibekalkan kepada setiap peserta didik. Hal tersebut dikarenakan matematika adalah bahasa yang digunakan para ilmuan untuk saling berhubungan dan untuk menemukan sifat-sifat yang berlaku secara umum antara berbagai peristiwa alam. Seperti yang dikemukakan oleh Suriasumantri bahwa matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Sehingga matematika memberikan kemudahan dalam mencari penyelesaian masalah yang dihadapi sehari-hari.

Matematika secara umum lebih dikenal sebagai ilmu hitung. Menurut James dan James seperti yang dikutip oleh Erman Suherman, dkk mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis, dan geometri. Menurut Kline yang juga dikutip oleh Erman Suherman, dkk, menyatakan bahwa adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

Dapat disimpulkan bahwa matematika adalah suatu ilmu logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu dengan lainnya yang diperoleh dari hasil pemikiran manusia untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam dalam kehidupan sehari-hari.

Belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai berikut :

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannnya.

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang banyak sekali, baik sifat maupun jenisnya karena itu sudah tentu tidak setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar. Manusia memang tidak dapat lepas dari belajar karena merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang akan menimbulkan perubahan-perubahan dan perkembangan di dalam diri manusia. Belajar seringkali didefinisikan sebagai perubahan yang relatif lama pada prilaku yang diperoleh dari pengalaman. Seperti yang dikemukakan Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Wina Sanjaya mengatakan bahwa belajar adalah proses berpikir yang menekankan kepada proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui interaksi antara individu dan lingkungannya.

Beberapa definisi mengenai belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku dimana perubahan tingkah laku itu diperoleh dari latihan maupun dari pengalaman dan perubahan tersebut terjadi karena usaha (dengan sengaja).

Uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar matematika adalah perubahan perilaku siswa akibat belajar yang disebabkan karena adanya proses usaha mencari pengetahuan dan keterampilan-keterampilan baru dalam bidang matematika untuk membentuk pemahaman dan pola pikir siswa untuk mengatasi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut menghasilkan perubahan pengetahuan, pemahaman, dan tingkah laku yang relatif tetap.

Menurut Winkel seperti yang dikutip oleh Purwanto, hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Menurut Soedijarto yang dikutip juga oleh Purwanto mendefinisikan hasil belajar sebagai tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuam pendidikan yang ditetapkan.

Evaluasi atau penilaian adalah cara untuk memperoleh hasil belajar yang merupakan tindak lanjut atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa. Penjelasan yang telah dijelaskan di atas dapat dikatakan bahwa hasil belajar matematika adalah perubahan tingkah laku dalam pengetahuan dan keterampilan setelah mengikuti proses belajar matematika. Hasil tersebut dapat berupa pemahaman konsep ataupun pengembangan konsep dasar dalam pemecahan suatu masalah. Hasil belajar matematika dapat diamati pada saat proses belajar berlangsung maupun pada proses penilaian. Setelah melalui proses belajar maka siswa diharapkan dapat mencapai tujuan belajar yang disebut juga sebagai hasil belajar.

2.    Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkah kemampuan yang berbeda. Kelompok kecil yang dimaksud adalah kelompok yang terdiri dari 2-5 orang dengan kemampuan dan latar belakang yang berbeda.

Belajar kooperatif membantu siswa meningkatkan sikap positif terhadap pembelajaran matematika. Banyak siswa menganggap pelajaran matematika itu sulit, dengan pembelajaran kooperatif siswa memiliki kepercayaan diri untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam matematika, sehingga mampu mengurangi bahkan menghilangkan rasa cemas terhadap matematika.

Terdapat 6 langkah utama dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:

Tabel 1. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Fase

Tindakan Guru

Fase 1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan
Fase 3Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase 5Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6Memberikan penghargaan Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Penelitian ini teknik-teknik pembelajaran kooperatif yang digunakan yaitu

a.    Numbered Heads Togerther (NHT)

Numbered Heads Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama merupakan teknik pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Teknik ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan pertimbangan jawaban yang tepat. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama meraka. Teknik pembelajaran ini dikembangkan oleh Spencer Kagan.

Pembelajaran dengan NHT ini, guru menggunakan empat langkah yaitu sebagai berikut:

Tabel 2. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran NHT

Jenis Kegiatan

Aktifitas Guru-Siswa

Langkah 1Penomoran Guru membagi siswa ke dalam kelompok beranggotakan 4 orang dan kepada setiap kelompok diberi nomor antara 1 sampai 4
Langkah 2Mengajukan Pertanyaan Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya atau bentuk arahan.
Langkah 3Berpikir Bersama Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban itu
Langkah 4Menjawab Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas

Setiap anggota kelompok NHT mempunyai tanggung jawab masing-masing. Setiap anggota dituntut untuk mengetahui hasil pekerjaan kelompoknya, karena guru akan memanggil nomor salah satu anggota kelompok untuk mewakili kelompok mempresentasikan hasil kerja mereka tanpa diberitahukan sebelumnya. Sehingga memotivasi siswa untuk lebih memahami suatu materi pelajaran karena setiap siswa harus siap jika dipanggil untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu:

1) Hasil belajar akademik stuktural

Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.

2) Pengakuan adanya keragaman

Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai

berbagai latar belakang.

3) Pengembangan keterampilan sosial

Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan  yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.

Ada beberapa manfaat pada pembelajaran kooperatif teknik NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh  Lundgren antara lain adalah:

a) Rasa harga diri menjadi lebih tinggi

b) Memperbaiki kehadiran

c) Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar

d) Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil

e) Konflik antara pribadi berkurang

f) Pemahaman yang lebih mendalam

g) Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi

h) Hasil belajar lebih tinggi

b.   Jigsaw II

Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson (1978). Metode pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II ini merupakan pengembangan dari Jigsaw (Jigsaw I). Perbedaan mendasar antara Jigsaw I dan Jigsaw II adalah terdapatnya kelompok ahli dalam Jigsaw II yang tidak terdapat pada Jigsaw I.

Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II, pemilihan anggota terdiri dari 4 atau 5 anggota yang heterogen. Anggota kelompok dalam teknik ini masing-masing mendapat bagian pembelajaran yang berbeda dimana mereka bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tersebut dengan baik sehingga dapat meraka jelaskan kepada anggota lain dalam kelompok.

Teknik Jigsaw II terdiri dari kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

1) Membaca (Reading)

Guru membagi bahan pelajaran menjadi tiga/empat bagian topik. Siswa menerima bagian masing-masing, kemudian siswa membaca topik yang menjadi bagian mereka. Setiap siswa menjadi ahli dalam bagian masing-masing. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan itu.

2) Diskusi Kelompok Ahli (Expert-Group Discussion)

Anggota dari kelompok lain yang mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Masing-masing anggota kelompok ahli saling bertukar pendapat tentang topik mereka sehingga semua anggota kelompok ahli tersebut mengerti tentang materi topik tersebut.

3) Laporan Kelompok (Team Report)

Selanjutnya anggota kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan di dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan kepada teman kelompoknya sendiri.

4) Tes (Test)

Setelah 1-2 pertemuan dan diskusi berjalan sehingga seluruh siswa akhirnya menguasai seluruh topik, siswa diberikan tes secara individu. Poin yang diperoleh digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dan seberapa besar skor individual secara kelompok.

Setiap kelompok pada Jigsaw II terdiri dari 4 atau 5 siswa yang heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau etnik yang cara pengelompokkannya sebagai berikut:

a) Membuat laporan rekapitulasi kelompok

b) Rangking siswa. Pada selembar kertas, urutkan siswa di kelas dari yang mendapat nilai terbaik sampai yang terendah pada hasil penilaian yang lalu.

c) Menentukan jumlah anggota kelompok. Setiap kelompok harus mempunyai 4 anggota jika memungkinkan. Jika jumlah siswa di kelas tidak memungkinkan bagi semua kelompok untuk memiliki 4 anggota, maka ada kelompok yang beranggotakan 5 orang.

d) Menempatkan siswa pada kelompok. Misalnya untuk kelas yang memiliki delapan anggota gunakan huruf A sampai H pada kertas rekapitulasi tersebut. Dimulai dari siswa teratas mendapat huruf A dilanjutkan terus sampai ke tengah yaitu sampai H. Jika sudah sampai pada huruf terakhir, maka lanjutkan pemberian huruf pada kebalikannya yaitu dari H samapai A, sehingga siswa ke delapan dan ke sembilan sama-sama mendapat huruf H, siswa ke sepuluh mendapat huruf G dan seterusnya. Ketika sudah sampai pada huruf A lagi maka hentikan dan lanjutkan lagi dari yang paling bawah dimulai dan diakhiri dari huruf A.

Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II, setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab untuk mempelajari bagian tugasnya masing-masing yang kemudian akan didiskusikan kepada anggota lain dari kelompok yang berbeda yang mempunyai tugas sama lalu menjelaskan bagian tugas yang menjadi tanggung jawab setiap anggota kelompok kepada kelompok masing-masing. Penjelasan yang harus dilakukan setiap anggota kelompok kepada kelompoknya masing-masing memberi peluang kepada setiap siswa terutama kepada siswa yang kurang berprestasi untuk dapat meningkatkan kepercayaan diri karena mengajar siswa yang mempunyai prestasi akademik lebih baik. Namun, bahan pelajaran yang dibagi menjadi empat bagian dimana setiap anggota kelompok mempunyai bagian tugas yang berbeda mempunyai kendala tersendiri yaitu pengajar tidak dapat membagi suatu bahan pelajaran menjadi empat bagian dengan sembarang karena setiap bagian harus dapat dipelajari sendiri-sendiri tanpa perlu memahami bagian yang lain terlebih dahulu.

Pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II memiliki dua dampak sekaligus pada diri siswa, yakni dampak instruksional (instructional effecs) dan dampak sertaan (nuturance effecs).

c.    Student Teams-Achievement Division (STAD)

Student Teams-Achievement Division (STAD) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Pembelajaran ini telah diteliti dan dikembangkan oleh John Hopkins University.

Menurut Slavin, Teknik STAD terdiri dari lima komponen utama, yakni:

1.  Penyajian kelas (Class Presentation)

Pada awal pembelajaran materi atau topik yang berkaitan dengan pelaksanaan STAD diperkenalkan dalam penyajian kelas. Penyajian kelas biasanya dilakukan oleh guru dengan metode ceramah dan dapat dikombinasikan dengan diskusi, penyajian audio-visual. Penyajian kelas berbeda dengan kebiasaan guru mengajar sehari-hari dalam penyajian kelas siswa harus jelas dan fokus terhadap materi dan guru hanya menjabarkan materi atau topik yang berkaitan dengan pelaksanaan STAD. Para siswa menyadari bahwa mereka harus memberikan perhatian dan mengikuti penyajian dengan sungguh-sungguh karena penyajian ini akan memberi masukan untuk menyelesaikan kuis. Nilai kuis setiap siswa akan menentukan nilai kelompok mereka.

2.  Kelompok (Teams)

Kelompok terdiri dari 4-5 orang secara heterogen, baik itu kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik atau kepribadian. Fungsi utama kelompok adalah untuk meyakinkan bahwa seluruh anggota kelompok harus dapat memahami materi yang diberikan guru, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapi tes individu. Setelah guru menyajikan materi, siswa berada dalam kelompoknya untuk saling bekerja sama, berdiskusi dan menggabungkan jawaban dalam mengerjakan tugas.

3.  Kuis (Quizzes)

Setelah 1-2 kali penyajian kelas dan siswa berlatih dalam kelompok, siswa diberi tes individu. Selama tes berlangsung antar anggota kelompok tidak diijinkan untuk saling membantu. Skor tes individu ini menentukan skor kelompok.

4.  Skor Peningkatan Individu (Individual Improvement Scores)

Skor peningkatan ini didapat hubungan antara skor awal dan skor tes, jika ada pengingkatan ataupun penurunan maka akan diberi poin tersendiri.

5.  Keberhasilan (prestasi) Kelompok

Keberhasilan kelompok ditentukan oleh sumbangan angka peningkatan rata-rata kelompok. Kelompok belajar siswa yang memiliki nilai peningkatan rata-rata tertinggi dibanding kelompok siswa lainnya memperoleh penghargaan sebagai kelompok terbaik. Jika perlu diberikan tanda khusus atau sertifikasi keberhasilan.

Tabel 3. Cara Perhitungan Nilai Peningkatan

Nilai Tes

Nilai Peningkatan Individu

Lebih dari 10 poin dibawah nilai awal

5

Antara 10 – 1 di bawah nilai awal

10

Antara 0 – 10 poin di atas nilai awal

20

Lebih dari 10 poin di atas nilai awal

30

Nilai sempurna

30

1.  Nilai Awal

Nilai awal dapat diambil dari nilai rapor atau nilai ulangan materi terakhir siswa.

2.  Nilai Tes

Nilai tes diperoleh dari nilai tes individu.

3.  Nilai Peningkatan Individu

Nilai ini berkaitan dengan dua nilai sebelumnya. Nilai ini juga menggambarkan sejauh mana peningkatan yang telah dicapai setiap siswa dalam belajar.

4.  Nilai Kelompok

Nilai yang diperoleh kelompok berdasarkan kontribusi nilai setiap anggota

Ada tiga tingkat dalam pemberian penghargaan, dengan kriteria sebagai berikut:

Tabel 4. Tingkat pemberian penghargaan

Rata-rata Kelompok

Penghargaan

15 poin

Baik (Good Team)

20 poin

Lebih Baik (Great Team)

25 poin

Istimewa (Super Team)

Pembelajaran dalam STAD ada penyajian kelas dan diskusi kelompok yang kemudian dilanjutkan dengan kuis individu. Kuis ini bertujuan untuk menguji pemahaman siswa sehingga setiap siswa harus memahami materi dengan baik. Selain itu, dengan adanya skor peningkatan individu serta pengakuan kelompok memberi motivasi kepada siswa untuk melakukan yang terbaik bagi diri sendiri maupun bagi kelompok. Namun, hal yang perlu diperhatikan oleh pengajar adalah untuk mengoptimalkan metode ini agar siswa dapat belajar dengan maksimal dan inilah tugas pengajar untuk mengawasi jalannya diskusi sehingga setiap siswa ikut terlibat dalam diskusi.

Pembelajaran kooperatif teknik STAD mempunyai beberapa keunggulan diantaranya sebagai berikut:

  1. Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok
  2. Siswa aktif membantu dan memotivasi semangat untuk berhasil bersama
  3. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok
  4. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.

B.      Penelitian yang Relevan

  1. Siti Aisyah dalam skripsinya memberikan kesimpulan bahwa rata-rata hasil belajar matematika yang menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) lebih tinggi daripada rata-rata hasil belajar matematika dengan kelompok konvensional.
  2. Retna Syafitri dalam penelitiannya memberikan kesimpulan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif STAD lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran sistem jawab berantai.
  3. Hariyanto dalam penelitiannya memberikan kesimpulan bahwa hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif Jigsaw lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran tradisional pada pokok bahasan program linear.

C.      Kerangka Berpikir

Pada hakikatnya belajar adalah perubahan tingkah laku dimana perubahan tingkah laku itu diperoleh dari latihan maupun dari pengalaman dan perubahan tersebut terjadi karena usaha (dengan sengaja). Belajar merupakan proses pribadi dan juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan  yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan bersama. Dengan demikian selain interaksi guru-siswa diperlukan juga interaksi siswa-siswa.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang berperan penting sebagai alat untuk mengembangkan cara berpikir logis dan kritis. Belajar matematika memiliki peranan sangat penting dalam pengembangan pola pikir siswa untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, banyak siswa yang menganggap bahwa matematika itu sulit. Hal tersebut salah satunya dikarenakan dalam proses pembelajaran matematika di sekolah pada umumnya siswa tidak terlihat secara aktif dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran demikian, komunikasi yang terjadi cenderung hanya satu arah, yaitu guru aktif menjelaskan sedangkan siswa hanya sebagai penerima pengetahuan yang pasif.

Untuk itu diperlukan pengkondisian suasana pembelajaran supaya siswa dapat terlibat langsung dalam pembelajaran yang aktif. Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dimana para siswa diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses belajar mengajar dengan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan atau memecahkan suatu masalah secara bersama. Siswa yang bekerja dalam pembelajaran kooperatif dituntut untuk bekerja sama dalam suatu tugas bersama dan mereka harus berkoordinasi dalam menyelesaikan tugasnya.

Terdapat beberapa teknik dalam pembelajaran kooperatif, diantaranya adalah teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD. Ketiga teknik ini sama-sama menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang siswa sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu, ketiga teknik ini juga sama-sama member tes individu berupa kuis.

Dari segi proses siswa memahami materi, NHT dan Jigsaw II memiliki karakter masing-masing. Dalam NHT siswa memahami materi melalui diskusi kelompok dengan tiap siswa diberi nomor dan adanya laporan kelompok sedangkan dalam Jigsaw II setiap siswa dalam kelompok mendapat tugas yang sama berkumpul dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan bagian mereka. Kemudian mereka kembali kepada kelompoknya masing-masing yang menjelaskan bagian tugas mereka kepada anggota lain dalam kelompok dan dilakukan secara bergiliran.

Dalam NHT dan STAD, kedua teknik ini sama-sama menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil sehingga memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Hasil pemikiran beberapa kepala akan lebih kaya daripada hasil pemikiran satu kepala saja yang mengakibatkan hasil kerja sama ini jauh lebih baik daripada hasil dari masing-masing anggota. Selain itu teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Ditinjau dari perbedaan antara teknik NHT dan STAD, pada teknik pembelajaran NHT siswa dikelompokkan sebanyak 4 orang kemudian guru memberi masalah atau pertanyaan yang berhubungan dengan materi. Siswa berdiskusi untuk menyelesaikan msalah tersebut. Setelah berdiskusi guru akan memanggil nomor secara acak untuk mempresentasikan jawaban dari masalah yang diajukan. Sedangkan STAD, guru menyajikan materi, siswa berada dalam kelompoknya untuk saling bekerja sama, berdiskusi, dan menggabungkan jawaban dalam mengerjakan tugas. Setelah 1-2 kali penyajian kelas dan siswa berlatih dalam kelompok, siswa diberi tes individu.

Ditinjau dari perbedaan antara teknik Jigsaw II dan STAD, pada STAD setiap siswa dalam kelompok mendapat tugas yang sama dan mereka berdiskusi bersama-sama setelah penyajian kelas. Sedangkan pada Jigsaw II, setiap siswa dalam kelompok diberi tugas yang berbeda, setelah itu siswa yang mendapat tugas yang sama berkumpul dalam kelompok ahli untuk mendiskusikan bagian mereka kemudian mereka kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan bagian tugas mereka kepada anggota lain dalam kelompok dan dilakukan secara bergiliran. Dari sini dapat dilihat bahwa siswa akan lebih fokus dalam mengerjakan tugasnya sendiri dan benar-benar tidak dapat bergantung pada kelompok.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD.

D.      Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berpikir, maka hipotesis penelitian ini adalah:

  1. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II.
  2. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik STAD.
  3. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik STAD.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.      Tujuan Operasional Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang perbandingan hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD di kelas VII SMP.

B.       Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 126 Jakarta Timur kelas VII semester 2 Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok bahasan Himpunan.

C.      Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen. Quasi eksperimen atau eksperimen semu merupakan eksperimen yang tidak memungkinkan peneliti melakukan pengontrolan penuh terhadap variabel dan kondisi eksperimen.

D.      Desain Penelitian

Dalam penelitian ini yang akan diteliti yaitu pembelajaran kooperatif teknik Numbered Heads Together (NHT), Jigsaw II, dan Student Teams Achievement Division (STAD) sebagai variabel bebas dan hasil belajar matematika siswa sebagai variabel terikat

Desain penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut:

Tabel 5. Desain Penelitian

Kelompok

Perlakuan

Pengukuran

E I

XEI

YEI

E II

XEII

YXII

E III

XEIII

YXIII

Keterangan:

E I                        : Kelas Eksperimen I

E II           : Kelas Eksperimen II

E III         : Kelas Eksperimen III

XEI            : Perlakuan pada Kelas Eksperimen I yaitu kelas yang diajar dengan teknik NHT

XEII           : Perlakuan pada Kelas Eksperimen II yaitu kelas yang diajar dengan teknik Jigsaw II

XEIII          : Perlakuan pada Kelas Eksperimen III yaitu kelas yang diajar dengan teknik STAD

YXI           : Tes akhir setelah perakuan pada Kelas Eksperimen I

YXII           : Tes akhir setelah perakuan pada Kelas Eksperimen II

YXIII          : Tes akhir setelah perakuan pada Kelas Eksperimen III

E.       Teknik Pengambilan Sampel

Teknik yang dilakukan untuk memperoleh sampel penelitian adalah teknik Cluster Random Sampling yaitu pemilihan kelas secara acak kemudian dilakukan pengamatan terhadap seluruh siswa pada kelas terpilih.

1.  Populasi Target

Populasi target dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VII SMP di Jakarta

2.  Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 126 Jakarta Timur

3.  Sampel

Prosedur Pengambilan Sampel

  1. Sampel diambil secara acak sebanyak tiga kelas yang berasal dari populasi terjangkau.
  2. Melakukan uji homogenitas pada ketiga kelas yang terpilih yaitu menggunakan uji Bartlett.
  3. Dari ketiga kelas tersebut kemudian ditentukan kelas eksperimen I, kelas eksperimen II, dan kelas eksperimen III

F.       Teknik Pengumpulan Data

            Untuk mendapatkan data hasil belajar siswa diperoleh dari tes sub sumatif siswa dari kelas eksperimen I, kelas eksperimen II, dan kelas eksperimen III setelah diberikan perlakuan.

G.      Instrumen Penelitian

     Sebelum instrumen digunakan pada sampel, instrumen tersebut diuji validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda soal.

  1. Pengujian Validitas

Uji validitas yang digunakan dalam instrumen ini adalah validitas isi (content validity), artinya butir-butir soal disusun sesuai dengan materi dan tujuan instruksional khusus. Setelah itu menggunakan uji validitas item dengan koefisien biseral

2.  Perhitungan Reliabilitas

Reliabilitas tes menentukan ketepatan atau ketelitian suatu alat evaluasi. Instrumen hasil belajar yang digunakan adalah tes esai. Reliabilitas tes esai dihitung dengan menggunakan rumus KR-20

Klasifikasi koefisien reliabilitas sebagai berikut:

0,91 – 1,00                       : sangat tinggi

0,71 – 0,90                       : tinggi

0,41 – 0,70                       : cukup

0,21 – 0,40                       : rendah

Kurang dari 0,21              : sangat rendah

3.  Perhitungan Taraf Kesukaran

Perhitungan taraf kesukaran instrumen bertujuan untuk mengetahui apakah soal tergolong sukar, sedang, atau mudah. Rumus yang dipakai untuk menghitung indeks kesukaran adalah:

Kriteria indeks kesulitan soal adalah:

0      – 0,30           : soal kategori sukar

0,31 – 0,70           : soal kategori sedang

0,71 – 1, 00          : soal kategori mudah

4.  Perhitungan Daya Pembeda Soal

Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa yang berkemampuan rendah dengan menggunakan rumus.

Kalsifikasi daya pembeda soal:

0,00 – 0,20            : jelek

0,20 – 0,40            : cukup

0,40 – 0,70            : baik

0,70 – 1,00            : baik sekali

H.      Teknik Analisis Data

1.         Uji Prasyarat Analisis Data

1.  Uji Homogenitas dengan menggunakan uji Bartlett dengan taraf signifikansi α = 0,05

2.  Uji Normalitas menggunakan uji Liliefors dengan taraf signifikasi α = 0,05

Hipotesis statistik : H0 : Data berdistribusi normal

H1 : Data tidak berdistribusi normal

2.         Uji Analisis Data

1.  Uji awal, dengan uji anava (analisis varian)

2.  Uji Lanjutan, dengan uji Scheffe taraf signifikansi α = 0,05

I.         Hipotesis Statistik

  1. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar matematika siswa yang menggunakan pembelajaran teknik NHT, Jigsaw II, dan STAD
  2. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II
  3. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik NHT lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik STAD.
  4. Hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik Jigsaw II lebih tinggi daripada hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan pembelajaran kooperatif teknik STAD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s