Menghayati Sejarah Nabi

Tahun Duka Cita (‘Amul Huzni) dan peristiwa di Tha’if (part III)

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah SWT) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.” (QS.At-Taubah(9):113)
Ketika itu ayat di atas memang belum turun. Itu sebabnya Rasulullah SAW berani berkata demikian. Di kemudian hari tahun dimana Khadijah dan Abu Thalib wafat dinamakan Tahun Duka Cita atau ‘Amul Huzni.

Kekhawatiran dan dugaan Rasulullah SAW tidak salah. Begitu keduanya wafat, kebencian dan permusuhan orang-orang Quraisy terhadap Islam makin menjadi. Berbagai penghinaan dan kekerasan makin meningkat. Niat untuk menyingkirkan Rasulullah SAW yang dulu pernah terhalang karena perlindungan Abu Thalib kini makin tampak nyata. Berbagai cara mereka coba, diantaranya dengan kekuatan tenung dan hipnotis.

“Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al Qur’an dan mereka berkata: “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.” (QS.Al-Qalam (68):51).

Orang-orang Arab pada masa lalu adalah masyarakat jahiliyah. Ketika mereka merasa tidak senang atau membenci sesuatu mereka terbiasa menggunakan kekuatan pandangan mata atau apa yang sekarang biasa di sebut Hipnotis untuk mengalahkan lawannya. Ini yang hendak mereka lakukan terhadap Rasulullah SAW. Namun melalui ayat 67 surat Al-Maidah Allah SWT menjanjikan bahwa kekuatan tersebut tidak akan mempan terhadap diri Rasulullah SAW. Oleh karenanya Rasulullah SAW yang semula selalu didampingi para sahabat ketika berdakwah menyuruh para sahabat untuk membiarkannya seorang diri tanpa kawalan ketat.

“Hai Rasulullah SAW, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah SWT memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah SWT tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah(5):67).

“Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.” (QS.At-Thur (52):30).

Ibnu Abbas menegaskan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Quraisy yang berkumpul di Darun Nadwah sambil membicarakan Rasulullah SAW. Salah satu dari mereka berkata : “Ikat dan penjarakan saja ia hingga mati seperti para ahli syair yang juga temannya terdahulu, Zuhair dan an-Nabighah.” (HR Ibnu Jarir).

Sungguh betapa pedihnya hati Rasulullah SAW. Kemana beliau harus mencari perlindungan? Namun dengan turunnya ayat berikut hati Rasulullah SAW agak lega. Karena paling tidak bukan diri dan pribadinyalah yang dimusuhi melainkan tugasnya sebagai Rasul Allah SWT, seperti juga rasul-rasul lain yang selalu didustakan. Tugas para rasul hanyalah menyampaikan, Allah SWT yang menentukan siapa yang mau mengikuti petunjuk dan mempercayai peringatan-Nya.

📝Sumber: https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/21/x-tahun-duka-cita-%E2%80%98amul-huzni-dan-peristiwa-di-tha%E2%80%99if/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s