Menghayati Sejarah Nabi

Tahun Duka Cita (‘Amul Huzni) dan peristiwa di Tha’if (Part II)

Suatu hari ketika beliau sedang berdakwah di hadapan para pembesar Quraisy tiba-tiba datang seorang sahabat dan langsung menanyakan sesuatu. Tentu saja kehadiran sahabat tersebut mengganggu jalannya pertemuan. Maka, Rasulullah SAW pun tidak menanggapinya dan tanpa sengaja air mukanya agak berubah. Namun, ternyata Allah SWT tidak ridha terhadap reaksi beliau dan langsung menegurnya.

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang seorang buta kepadanya.Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran) sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa (80): 1-10)
Betapa menyesalnya Rasulullah SAW. Ini bukanlah kebiasaan dan sifatnya. Beliaupun segera bertaubat. Menghadapi hal-hal seperti ini, biasanya beliau tumpahkan isi hatinya kepada istrinya tercinta yang selalu bisa menghiburnya. Ini yang membuat beliau merasa begitu kehilangan.
Apalagi ketika beberapa bulan kemudian, Abu Thalib, paman yang selama ini selalu melindunginya juga wafat. Rasulullah SAW tak dapat membayangkan apa yang bakal diperbuat orang-orang Quraisy terhadap dirinya tanpa perlindungan Abu Thalib. Namun, yang juga membuat diri Rasulullah SAW gundah adalah sikap Abu Thalib. Pamannya ini walapun selalu melindungi beliau namun ia sendiri sebenarnya tidak pernah mengucap Syahadat.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah SWT memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah SWT lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qashash (28): 56)
Abu Hurairah dan Sa’id bin Musayyab menerangkan bahwa, ayat diatas diturunkan berkenaan dengan Abu Thalib ketika mendekati ajalnya. Ia didatangi Rasulullah SAW. Di sisinya ada Abu Jahal dan Abdillah bin Abu Umayah. Rasulullah SAW bersabda: “Wahai paman, ucapkanlah La Ilaha Illallah. Kalimat ini akan kujadikan argument di akhirat kelak bahwa kau adalah orang beriman.” Namun, Abu Jahal dan Abdillah menentang. “Hai Abu Thalib, apa kau akan meninggalkan agama Abdul Munthalib?.” Hal ini terjadi berulang kali hingga pada hembusan nafas terakhirnya, Abu Thalib bersaksi tetap pada agama Abdul Munthalib. Rasulullah SAW sungguh sedih dan berkata: “Aku akan terus meminta ampunan untukmu paman sebelum Allah SWT melarang hal ini.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

📝Sumber: https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/21/x-tahun-duka-cita-%E2%80%98amul-huzni-dan-peristiwa-di-tha%E2%80%99if/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s