Pendakian Kota-kota (Gunung Arjuno 3339 mdpl)

Ini naik gunungnya udah lama banget, hampir 2 tahun yang lalu tapi baru sempet nulis -_____-

Para petualang tidak hanya sekedar pergi bertualang, tetapi juga menulis. Bukankah dengan menulis kita bisa bercerita, membagi pengalaman atau membagi ilmu yang kita miliki. Seperti Norman Edwin, Peter Bordman, Doug Scout, Pat Morrow, Reinold Messner, dan yang lain. Tak harus menunggu punya prestasi dulu, mendaki gunung-gunung es dulu, memburu Seven Summits atau 14th Dead Zone untuk menulis cerita pendakian. Cukup meniru bagaimana niat dan semangat mereka untuk bercerita tentang keberhasilan-keberhasilan, agar keberhasilan itu dapat ditiru orang lain atau tentang kegagalan, agar kegagalan itu tidak diulang oleh orang lain.

Mencontoh semangat mereka, saya mencoba menulis petualangan-petualang yang selama ini telah saya lewati, karena ketika saya sudah tidak lagi berkegiatan di alam bebas lagi, hanya tulisan dan potolah yang menjadi saksi sejarah bahwa saya telah melakukan petualangan.

Pendakian ini dilakukan pada bulan Juli 2011. Pendakian ini berawal ketika saya menghubungi salah seorang teman yang bernama Ratih. Ketika itu saya sedang ingin sekali naik gunung, kebetulan Ratih mempunyai rencana naik gunung pertengahan Juli. Dan ketika dia menyebutkan nama gunungnya, sontak saya langsung mengiyakan ajakannya, karena salah satu gunung yang belum saya daki yaitu Gunung Arjuno. Gunung Arjuno memiliki tinggi 3.339 meter di atas permukaan laut (mdpl), se Pulau Jawa ia menempati urutan ke tiga setelah Gunung Semeru (3.676 mdpl) dan Gunung Slamet (3.432 mdpl).

Beranjak dari situ saya dan Ratih merencanakan untuk latihan bareng, ya sekedar jogging untuk menjaga stamina sambil mempersiapkan kebutuhan untuk mendaki. 3 hari sebelum berangkat, saya agak ragu untuk pergi karena terkendala izin dari orangtua. Tetapi karena keinginan saya yang amat besar dan memang terkenal sebagai anak yang keras kepala, akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat. Yang ada dalam pikiran saya saat itu ialah yang penting saya sudah meminta izin, urusan diizinkan atau tidak saya tidak perduli, saya pasti akan tetap berangkat, karena saya berpikir pasti mereka juga akan mendoakan meskipun ada perasaan ga rela hehehehe. Yah begitulah setiap saya naik gunung, tetep kekeuh pergi sambil minta izin orangtua, dan mereka hanya bisa berucap sabar🙂

H-1 saya datang ke stasiun senen untuk memesan tiket kereta Matarmaja tujuan malang, karena ini akan menjadi perjalanan yang panjang, jadi pasti akan melelahkan sekali, untuk menjaga stamina, ya harus prepare sebaik mungkin salah satunya pemesanan tempat duduk hehehehe. Oke, tiketpun telah saya pesan sebanyak 2, untuk saya dan Ratih. Ya kami hanya berangkat berdua saja dari jakarta.

Keesokan harinya tgl 20 Juli 2011, kami janjian di stasiun senen sekitar pukul 12.00, karena kereta yang akan kami naiki berangkat pukul 13.00. Lalu lintas hari itu sangat tidak dapat diprediksi, Ratih tiba-tiba sms dan mengabarkan bahwa bus yang ia tumpangi terjebak macet, padahal ketika itu jam tangan saya menunjukan pukul 12.30 yang berarti setengah jam lagi kereta akan berangkat dan posisi Ratih masih jauh dari stasiun. Oke, sambil menenangkan diri, saya berpikiran positif bahwa kereta akan ngaret, ya maklumlah kereta ekonomi hehehe. Tak lama akhirnya Ratih pun datang dan kami berdua langsung mencari tempat duduk yang terterah di masing-masing tiket kami. “Huaahhh akhirnya, ga jadi ketinggalan kereta kita tih”, kata saya hehehe….

Kereta berangkat, dan petualangan pun dimulai jeng jeng jeng hehehe. Kurang lebih 5 jam kereta sampai di kota Cirebon, dan pada saat itu juga Angga (teman Ratih) dan 2 orang temannya naik kereta yang sama dengan kami. Wah sungguh pengalaman yang baru buat saya, kenal orang baru yang akan naik bareng dengan saya hehehe. Yak, perjalannan pun dilanjutkan menuju Malang. Tadinya saya pikir kita akan langsung naik ke Arjuno langsung dari Malang, ternyata kita akan mampir dulu ke rumah temannya Ratih yang berada di Sidoarjo, karena dari sana ternyata lebih dekat ke desa Tretes, kita akan start pendakian lewat jalur Tretes.

Tepat pukul 06.30 kita tiba di Stasiun Malang dan mencari loket tiket untuk naik kereta (lagi) tujuan Stasiun Waru. Sekitar pukul 10.00 kita tiba di Stasiun Waru, dan ternyata Mas Agus (teman Ratih) datang untuk menjemput kita berlima. Akhirnya kita semua diboyong menuju kediaman Mas Agus. Pemukiman di Sidoarjo ini tidak beda jauh dengan pemukiman di Jakarta, termasuk pemukiman padat hehehehe (begitu celotehan ku dengan angga).

Setibanya di kediaman Mas Agus, kita beristirahat sejenak sebelum melakukan persiapan pendakian, karena kita akan melakukan start pendakian pada malam hari sambil menunggu 4 orang teman Mas Agus yang berasal dari Jogjakarta. Wah pendakiannya akan seru nih kayanya hehehehe.

Setelah beristirahat dan berleha-leha, sekitar pukul 15.00 kami persiapan untuk packing-packing keperluan pendakian, membeli segala macam makanan yang akan kami bawa nanti untuk pendakian (biar ga kelaperan ceritanya hehehe).

Sehabis maghrib, kami semua bersiap menuju terminal Bungurasih untuk naik bus patas dan berhenti di pandaan. Dari pandaan kami naik mobil L300 (kaya elf gitu, tapi disana namanya L300) menuju pos pendakian terakhir tretes. Kemudian kami turun di depan Hotel Tanjung, pos pendakian pas di seberang hotel tersebut. Pendaftaran Arjuno & Welirang dapat dilakukan pada saat itu juga di Basecamp. Syaratnya adalah menitipkan kartu identitas (KTP/KTM/Passport) dan melapor kembali pada saat turun. Tidak ada jam operasional yang pasti bagi Basecamp Arjuno Welirang, petugas akan menutup Basecamp apabila diperkirakan tidak ada lagi pendaki yang naik / turun, biasanya di atas pukul 22.00. Waktu itu kami datang sekitar pukul 23.00 dan langsung start pendakian menuju Pos Kokopan.

Pos PHPA (Basecamp) Tretes – Pet Bocor
Waktu tempuh: + 30 menit
Dapat ditempuh melalui bagian samping Basecamp (melewati palang) dengan mengikuti jalur berbatu hingga menemukan simpang 3, lalu belok ke kiri. Alternatif lain adalah terus naik ke atas dari Basecamp mengikuti jalan motor. Pet Bocor ditandai dengan sebuah warung dan tanah lapang yang dapat dipakai berkemah
Pet Bocor – Kokopan
Waktu tempuh: + 2 jam – 4 jam
Hanya ada satu jalur dari Pet Bocor ke Kokopan yang merupakan jalan menanjak berbatu-batu yang sebagian besar tidak dinaungi pepohonan rindang. Jika pendakian dilakukan pada siang hari, sebaiknya pendaki menyiapkan peralatan tempur untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Terdapat beberapa jalur pintas yang cukup jelas di sebelah kiri jalan melalui semak-semak. Di Kokopan terdapat juga warung yang biasanya buka di akhir minggu, namun tidak dapat dipastikan kapan warung ini buka/tutup. Selain itu, di Kokopan dapat ditemukan sumber air yang cukup melimpah dan mudah diambil. Karena kami start pendakian pukul 23.00, kami tiba di pos kokopan sekitar pukul 02.00, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di pos kokopan dan akan melanjutkan perjalanan keesokan harinya
Kokopan – Pondokan
Waktu tempuh: + 3 jam – 5 jam
Selamat Pagi, matahari sudah menyinari tenda kami semua, tiba saatnya kami melanjutkan perjalanan kami, tidak lupa kami sarapan terlebih dahulu untuk menambah stamina karena medan yang akan kami tempuh bebatuan yang menanjak yang pastinya banyak menguras tenaga. Tujuan kami yaitu menuju pos Pondokan. Jalur utama Kokopan – Pondokan juga sangat jelas, namun sedikit lebih teduh dibandingkan perjalanan Pet Bocor – Kokopan. Setengah jalan pertama masih relatif gersang, namun setelah itu di kiri kanan dapat ditemui hutan yang indah dengan lebih sedikit jalur pintas. Pondokan ditandai dengan plang “Pondokan” dan perkampungan penambang belerang. Terdapat petunjuk ke arah atas (lurus) untuk menuju Puncak Welirang, dan ke arah kiri untuk menuju Puncak Arjuno. Tenda dapat didirikan di ujung atas (ke arah Welirang) perkampungan penambang, sebelum vegetasi. Di Pondokan ini juga terdapat sumber air, namun seringkali kering di musim kemarau.
Pondokan – Puncak Arjuno
Waktu tempuh: + 2jam – 4 jam
Perjalanan ke Puncak Arjuno melewati jalur yang setapak yang ditandai dengan pita-pita di sepanjang jalur. Ikuti saja pita-pita ini, maka akan sampai ke puncak Arjuno setelah melewati 3 puncak semu. Puncak Arjuno terdiri dari batu-batu besar dan merupakan puncak paling ujung, sekitar 30 menit – 1 jam dari puncak semu pertama.
Setelah berjalan lebih kurang 30 menit, kami melihat sebuah lembah yang disebut sebagai Lembah Kijang. Terdapat sebuah pos resmi di ujung Lembah Kijang dimana terdapat sumber air, yang biasanya masih tersedia di musim kemarau ketika tidak ada air di Pondokan. Di dekat pos, ada sebuah plang “Rawan Kebakaran”; apabila tersesat, ambillah jalur naik dari lembah di dekat plang tersebut, lalu belok kanan ke arah Pondokan atau belok kiri ke arah puncak.
Lembah Kijang

Lembah Kijang

Karena hari mulai senja dan kami tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak, akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di batas vegetasi menuju puncak arjuno. Setelah berkemah di wilayah puncak pada malam, kita akan disuguhkan panorama sunrise pada dini hari, suatu kenikmatan yang sulit digambarkan oleh kata-kata. Paginya sekitar pukul 06.00 kami summit attack dengan membawa bekal makanan secukupnya ke puncak arjuno. Sesampainya kami di puncak gunung Arjuno, disambut dengan angin yang sangat kencang dan suhunya minus (saya kira). Dingin yang menggigit kulit setimpal dengan indahnya pemandangan kota yang terhampar di bawah gunung Arjuna. Puncak Gunung Arjuno disebut juga Puncak Ogal Agil

Sunrise

Sunrise

Puncak Ogal Agil

Puncak Ogal Agil

Puncak Arjuno

Puncak Arjuno

Karena waktu yang tidak memungkinkan karena teman-teman harus beraktivitas pada pekerjaan masing-masing di esok hari, maka pendakian ke Gunung Welirang (3156 Mdpl) untuk sementara ditunda sambil menunggu waktu yang tepat dan direncanakan yang lebih matang lagi.

Akhirnya setelah turun dari Arjuno, kami bermalam kembali di rumah mas agus sambil berwisata kuliner, ke rumah mbah dukun (abang-abangan bonek ceritanya), ga semuanya bonek itu menyeramkan yah, buktinya mbah dukun baik kok, dan dia wawasannya luas dan ga berpikiran sempit, udah gitu beliau itu ketua RW loh, padahal umurnya masih muda.. Wow saluteeeeeee..

Oke mungkin segini dulu cerita dari saya, kapan-kapan sambung lagi deh😀

One thought on “Pendakian Kota-kota (Gunung Arjuno 3339 mdpl)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s