Mendaki Gunung Merbabu

Pendakian ini dilakukan tahun 2010 dalam kegiatan “Ekspedisi Citra Baramuda (ECBM) 2010″ tim yang melakukan pendakian terbagi 3, untuk mendaki empat gunung di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mulai dari Gunung Merbabu di Boyolali, Gunung Merapi yang berada di pertengahan Jawa Tengah dan Yogyakarta, Gunung Lawu di Solo, dan Gunung Semeru di Malang.

Ekspedisi Citra Baramuda

Ekspedisi Citra Baramuda

Letak Geografis dan Administratif

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah.

Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, “merbabu” berasal dari gabungan kata “meru” (gunung) dan “abu” (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

Gunung Merbabu mempunyai kawasan Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Kondisi Umum

Taman Nasional Gunung Merbabu berada di Kawasan Hutan Negara terletak di Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang di Propinsi Jawa Tengah. Gunung merbabu mempunyai ketinggian di atas 2.000 m dpl dengan kemiringan lereng lebih dari 40º. Gunung Merbabu memiliki berbagai macam potensi dan kekhasan flora fauna yang harus dilestarikan.


Flora dan Fauna

Potensi flora yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu berupa tanaman Pinus, Puspa, Bintamin, Akasia decuren dan beberapa jenis perdu, adas, eldeweis serta tanaman efifit.

Potensi fauna yang terdapat di Taman Nasional Gunung Merbabu yaitu Elang Hitam (Ichtnaetus malayanesis), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Lutung Hitam (Tracypithecus auratus), Kijang (Muntiacus muntjak),, Musang (Herpates javanica), Macan tutul (Panthera pardus), Landak (Histrix sp), Luwak (Paradoxunus hermaproditus) dan beberapa jenis burung seperti Kutilang (Pynonotus aurigaster), Pentet (Lavinus eshach), Sepah Gunung (Pericrotus leuchopaeus) dan puter.

Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Mata pencaharian masyarakat didominasi petani sayur, pedagang dna sebagian kecil karyawan. Usaha wisata merupakan usaha sampingan selain petani yaitu berupa menyewakan pondok wisata, home stay, kios tanaman hias, menyewakan binokuler, warung makan serta warung kelontong. Kebudayaan yang ada di masyarakat sekitar Gunung Merbabu antara lain berupa ketoprak, campur sari, kuda lumping, tari soreng, turonggo seto, jatilan, budi tani, jelantur dan tari-tari lainnya.

Akses Transportasi

Akses untuk samapai di Wekas bisa melewati Magelang dengan menumpang minibus tujuan Kopeng dan kemudian turun di gerbang Kaponan yang merupakan gerbang desa Wekas, ongkosnya Rp.5.000,-

Gapura menuju basecamp Wekas

Gapura menuju basecamp Wekas

Kemudian dari gerbang ini menuju Desa Wekas berjarak sekitar 3 km. Bisa juga menggunakan Ojek hingga basecamp Wekas dengan sewa Rp.10.000,-, tetapi saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan kaki sampai pos basecamp. Jalan aspal berbatu menuju desa Wekas cukup curam dan menanjak.

Perjalanan menuju basecamp

Perjalanan menuju basecamp

Perizinan

Perijinan bisa diurus basecamp jalur Wekas yang merupakan kediaman dari Pak Sutyoso yang merupakan kuncen jalur Wekas.

Jalur Pendakian Menuju Gunung Merbabu

Tim Ekspedisi Citra Baramuda yang berjumlah empat orang (Fiko, Rita, Chinay, Koko) akhir Juli 2010 melakukan pendakian Gunung Merbabu melalui Jalur Wekas. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang.

Basecamp Wekas – Pos I
Dari basecamp Wekas jalur pendakian dimulai dengan menapaki jalan kampung dan kemudian terus berlanjut dengan jalan kecil yang terbuat dari susunan batako yang di semen, lumayan menanjak. Jalan bersemen ini berakhir pada sebuah bangunan makam yang ada rumahnya. Kemudian jalur pendakian berupa jalan tanah yang jelas sekali. Sepanajng jalur menuju Pos I keadaan hutan tidak begitu rapat. Masih terdapat perladangan penduduk dan hutan cemara.

Menuju Pos II

Menuju Pos I

Pos I – Pos II
Pos I merupakan sebuah dataran yang cukup luas dan terbuka, tapi pada Pos I ini tidak terdapat sumber air, pos ini hanyalah sebagai persinggahan sementara bagi pendaki jarang yang menginap disini. Kondisi jalur trek menuju Pos II dari Pos I terlihat jelas sekali dan cukup menanjak, selepas pos I akan bertemu dengan pipa plastik aliran air dan jalur trek hingga Pos II akan mengikuti pipa plastik ini. Keadaan hutan tidak begitu berbeda dengan jalur trek sebelum Pos I. Mendekati Pos II jalan setepak akan sedikit mendatar dan disebelah kiri akan terlihat punggungan pucak Antene dengan antenenya. Waktu tempuh dari Pos I ke pos II kurang lebih 2,5 jam.

Pos 2

Pos 2

Pos II – Pertigaan jalur dari arah Kopeng
Pos II merupakan areal datar yang cukup luas, dan jika musim ramai pendakian di pos ini ada warung yang dibuat oleh penduduk setempat. Pemandangan sangat indah di Pos II ini jika cuaca bagus punggungan puncak antene, puncak hellypad dan beberapa pungungan lainnya. Indah sekali mirip pemandangan alpen. Disebelah kiri pos terdapat punggungan dan lembah yang dalam, didasar lembah tersebut terdapat air terjun. Di pos ini ada sumber air yang berasal dari pipa air yang dibolongi. Pos II banyak dijadikan alternatif sebagai tempat bermalam oleh pendaki. Dari Pos II menuju pertigaan jalur yang dari arah Kopeng (Tekelan dan Cuntel) jalur setapak cukup menanjak tajam tidak jauh dari Pos II akan bertemu dengan pertigaan, ambil jalur trek yang sebelah kiri jalur ini kemudian akan menanjak dan bertemu batu besar kemudian belok ke kiri hingga jalur bertaut dengan jalur dari arah Kopeng. Waktu tempuh dari Pos II hingga ke pertigaan jalur dari Kopeng ini kurang lebih 2 jam.

Pertigaan jalur arah Kopeng – Hellypad
Pertigaan tempat jalur Wekas dan jalur dari Kopeng bertaut dan menjadi satu menuju puncak ini ditandai dengan sebuah patok perbatasan kabupaten. Dari sini Pos II dan jalur menuju puncak jelas terlihat. Dan tidak jauh dari pertigaan ini hellypad sudah terlihat. Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan.

Jembatan Setan Menuju Kenteng Songo

Tanjakan Setan Menuju Kenteng Songo

Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Kenteng Songo

Kenteng Songo

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn. Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn. Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn. Lawu dengan puncaknya yang memanjang.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s