Menuju Halal

2 Safar 1439 H saya resmi dipinang oleh seorang lelaki yang saya yakini bahwa dengannya hidup akan lebih terarah menujuMu, yang dengannya tidak hanya dunia saja yang saya pikirkan tapi sama-sama untuk meraih jannahNya. Dari proses perkenalan, khitbah, sampai menuju ke pernikahan 24 rabi’ul akhir 1439 H sama sekali tidak merasakan hambatan sedikitpun, dan saya juga tidak merasa grasak grusuk untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan akad dan resepsi. dari penentuan venue, catering, dekor, tata rias, undangan, souvenir, seserahan, semuanya dikerjain sendiri dan enjoy aja ngejalaninnya, kadang kan ada aja pihak cwe misah misuh karena ada satu dan lain hal pihak cwo dirasa ga bantu-bantu nyiapin pernikahan, terus si cwe ngambek, masalah dikit, dibesar-besarin, tapi alhamdulillah nya meskipun aa sibuk, terus saya nyiapin semuanya sendirian ya dibantu ibu juga sih, tapi ga terlalu mempermasalahkan aa ga ikutan bantu, yaudah toh dia ada alasan syari kok, dan saya ga mau juga bersu’udzon klo aa cuma alasan aja karena males diribetin, kadang kan ada yang berfikiran su’udzon gitu sama calon pasangannya, teman-teman saya sering curhat soalnya begitu. tapi saya ga mau membangun citra negatif dalam aura dan pikiran saya dan saya percaya Allah pasti ngebantu, yakin aja. dan yang ngebuat tambah yakin pas liat janji Allah ini dalam surah Ath-Thalaq ayat 2-3 “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. masya allah bener-bener ga ngerasain yang namanya ribet, banyak yang bantu, banyak yang nolong, orangtua, saudara-saudara. semuanya mudah aja gitu dan bener-bener santai aja perasaannya. dan yang paling amazingnya, ekspektasi saya untuk menikah dengan busana adat jawa tapi tetep syari, alhamdulillah sesuai dengan yang saya inginkan. untuk resepsinya sendiri, karena saya tipe orang yang ga terlalu suka pesta-pesta meriah gitu jadi ya berusaha dibawa enjoy aja jadinya. apalagi klo jadi pusat perhatian, bener-bener ga terlalu suka banget tapi ya it’s okay lah ya. intinya sah, memulai ibadah (yang paling lama) dengan cara yang insya allah, allah ridhoi, berkahi dan memulai dengan cara yang baik (maksudnya bukan jalur pacaran). ya meskipun taaruf bukan jaminan rumah tangga ga ada gangguan sih tapi seenggaknya meraihnya bukan dengan cara yang allah tidak sukai (pacaran). karena proses taaruf dalam rumah tangga itu terjadi terus menerus bukan hanya sebelum menikah.
bismillah, bersama bergenggaman tangan menapaki jalan juang dengan pak suamik
jazaakallah khair katsiro ya suamikuuu sudah bersedia menerima saya yang aneh bin ajaib ini ke dalam hidupmu. ayo kita bangun cinta dan raih ridhoNya..

Advertisements

Untukmu Lelaki

Mengambil seorang anak perempuan dari kedua orang tuanya sebagai seorang istri adalah seperti menyerahkan separuh jiwa mereka padamu.

Maka siapkan diri dengan tanggung jawab dan ilmu, karena dirimu yang akan mengambil AMANAH yang sebelumnya ada di pundak keduanya.

memulai, menjalani, dan mengakhiri sama-sama tidak ada yang mudah. untuk itu, berdoalah lebih banyak untuk meminta kekuatan, kesabaran, dan segala hal yang berguna untuk menghadapinya. sebab memang perjalanan ke depan tidak pernah dijanjikan akan semakin mudah. -masgun-
terimakasih masgun

H-9

Jakarta, January 2, 2018 | 15 Rabi’al-thani 1439 H

10:53 PM

Kesepian diciptakan untuk membuat manusia merasa bahwa hidup ini membutuhkan orang lain dan juga membutuhkanNya. Kesepian diciptakan untuk membuat manusia sadar bahwa dunia ini tak bisa dihabiskan sendiri. Kesepian juga mengajarkan bahwa seasyik apapun hidup sendiri, hidup bersama jelas lebih menarik.

H-11

Sunday, December 31, 2017 | 13 Rabi’al-thani 1439 H

01:38 AM

Berhenti Padamu

Aku pernah mencari, kemudian berhenti karena tak tahu arah mana yang harus kutuju. Hanya terus melaju tanpa tahu apa yang sebenarnya yang menjadi alasanku.

Aku pernah mencari namun berkali-kali berujung pada kehilangan yang pilu. Satu persatu pergi dan aku mulai sadar mungkin aku sedang diuji dengan orang-orang yang tampak akan tinggal selamanya namun ternyata meninggalkan.

Aku pernah mencari, berlari pada semua yang terlihat baik. Namun tiba-tiba sesak memenuhi ruang dada. Karena tidak semua yang terlihat sempurna dapat menerima kita. Aku sudah terlalu banyak melewatkan. Lalu aku harus bagaimana ?

Aku mengambil jeda. Karena kurasa aku sudah dipenuhi oleh ambisi yang membuatku berjalan terburu-buru. Mungkin selama ini aku terlalu fokus pada diri sendiri, bukan pada apa yang sebenarnya kucari.

Aku mengambil jeda. Selama ini aku lupa, bahwa ada yang lebih berkuasa atas penemuan. Bahwa ada kehendakNya yang tak dapat dipatahkan. Bahwa jika kita melibatkanNya, kita akan jauh lebih tenang.

Rupanya kamu tidak kemana-mana, justru aku yang begitu. Rupanya kamu tidak pergi jauh, justru akulah yang berputar-putar ditempat yang salah. Rupanya rumusnya demikian, ketika aku mencarimu langsung pada Yang Menciptakanmu aku dapat menemukanmu.

Aku pernah mencari. Kemudian berhenti.
Padamu

 

 

H-21

Jakarta, December 21, 2017 | 3 Rabi’al-thani 1439 H

05:51 PM

Pernikahan, secara teori nampak mudah dan sederhana. Tetapi semuanya menjadi sama sekali tidak sederhana jika ia sudah dihadapkan pada seorang manusia. Seseorang yang lengkap dan memiliki banyak pertimbangan terkait masa lalu, orang tua, keluarga besar, nilai-nilai, pandangan hidup, visi dan misi, juga hal-hal lain yang mungkin tidak pernah ada dalam hidupmu. Kamu tidak pernah mengalami dan merasakannya. Sebab itulah, mendoakan jauh lebih baik daripada menilai. Memahami jauh lebih baik daripada berburuk sangka.

Karena makna taaruf ialah bukan hanya sebelum menikah, tetapi setelah menikahpun dan selamanya kita harus saling bertaaruf dengan pasangan dan intinya saling pengertian..

 

Banyak banget ilmu yang telah didapatkan selama ini, kajian pra nikah, kajian parenting, memahami hak dan kewajiban suami istri, dll. Bukan, bukan karena saya ngebet nikah, tapi nikah itu butuh ilmu dan ilmu itu harus dicari dan didatangi. Semoga ilmu yang selama ini didapatkan bisa diaplikasikan di kehidupan rumah tanggaku kelak. aamiin

 

H-23

Jakarta, Tuesday, December 19, 2017 | 1 Rabi’al-thani 1439 H

11:31 PM

Visi Rumah Tangga Muslim

Allah berfirman dalam surat Al Fur’qan ayat 74,
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Maha Benar Allah yang telah menciptakan Al Qur’an sebagai Mukjizat, pedoman hidup yang sempurna, tiada cacat dan tiada sia-sia. Salah satu mukjizatnya adalah ayat-ayat yang terdiri dari susunan kata yang sempurna dan penuh makna, yang tepat dan tidak akan menimbulkan keraguan.

Dalam ayat ini, Allah memberikan suatu petunjuk yang sangat jelas bagi umat manusia, bagi umat islam diseluruh dunia tentang membina visi rumah tangga muslim. Ada Empat hal yang menjadi poin utama bagaimana Allah membimbing kita dalam hidup berumah tangga, yaitu :
1. Pasangan
2. Keturunan
3. Menyejukan
4. Pemimpin umat

Ada pertanyaan menarik tentang urutan kata dalam ayat ini, kenapa Allah menyebutkan Pasangan terlebih dulu kemudian keturunan, kemudian yang menyejukan pandangan dan yang menjadi pemimpin umat?
Inilah hikmah yang luar biasa, secara kronologis hidup, wajar dan tidak heran jika kita menikah dulu baru mempunyai keturunan. Namun yang menjadi perhatian disini adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik maka haruslah memilih pasangan yang baik pula. Inilah kenapa Allah juga menerangkan dalam surat An Nuur ayat 26, yang artinya Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”

Ada perintah untuk mencari pasangan yang baik, yang memiliki sinkronisasi dalam tujuan hidupnya, visi rumah tangga yang jelas, pemahaman yang baik, dan akhlak yang baik pula. Karena, jika hal ini dilanggar, kemungkinan untuk mendapatkan keturunan yang baik akan sangat sulit.
Mari kita lihat contoh Nabi Nuh yang ditakdirkan Allah mendapat istri yang kurang baik, sehingga melahirkan keturunan yang kurang baik juga, bahkan durhaka yakni kan’an.
Ada ketidakcocokan dalam mendidik anak, karena berbeda visi, berbeda pemahaman dan berbeda akhlak, apalagi berbeda keyakinan.
Ternyata, untuk mendapatkan keturunan atau bahkan mendidik anak kita, itu dimulai dari mencari pasangan hidup yang baik.

Yang selanjutnya, adalah urutan Qurrata A’yun atau yang menyejukan pandangan. Maksudnya adalah keturunan yang soleh dan solehah, akhlaknya baik, ibadahnya benar, aqidahnya bersih dan yang selalu taat kepada Allah swt.
Keturunan yang seperti inilah yang diharapkan oleh Allah dan Rasulnya yang kelak, yang seperti inilah yang menjadi pemimpin umat. Makanya, ketika seorang ingin menjadi pemimpin harus dites terlebih dulu keluarganya, apakah baik dalam berkeluarga, menjadi panutan atau tidak baik bahkan menjadi yang dibenci. Seperti Fir’aun, yang istrinya saja berdoa agar dilindungi dari kezaliman Fir’aun.

Inilah sedikit hikmah tentang rumah tangga muslim yang Allah sudah sediakan petunjuknya dalam surat Al Furqan ayat 74, semoga menjadi pelajaran dan pedoman dalam melahirkan pemimpin-pemimpin bagi umat yang bertakwa.

Bismillah, semoga kita semua dikaruniai pasangan dan keturunan yang dapat menyejukan pandangan dan semoga kita satu diantaranya yang Allah pilihkan untuk membangun peradaban Islam. aamiin..

H-26

Jakarta, December 16, 2017 | 28 Rabi’ul awwal 1439 H

1:39 AM

It is not a crime not having many friends. Sometimes being alone means you have less drama and fewer peoblems.

-thatonerule:#726-

Ketika orang lain dengan akun sosial media pribadinya berlomba-lomba untuk punya follower sebanyak-banyaknya, saya malah ingin stick dengan sedikit follower aja. Kenapa? I tend to keep my circle small but feels close and warm. Rasanya jauh lebih nyaman dengan sedikit teman.

Beda dengan akun yang khusus untuk jualan, more followers more benefits. Meski jumlah follower ga selalu berbanding lurus dengan jumlah closing. Kadang ada yang followersnya banyak tapi jarang closing. Begitu juga sebaliknya.

Dan meski punya banyak followers itu bagus untuk reputasi bisnis, jangan sampailah beli followers atau malsuin testimoni. Ga banget dan ga (bakal) berkah.

More followers, more responsibilities

Semakin banyak yang follow dan mengamati gerak gerik kita, bagi saya hal tersebut makin tidak nyaman. Apalagi klo isinya orang-orang yang sama sekali ga kita kenal. That’s why beberapa saat lalu saya bersih-bersih friendlist supaya lebih nyaman dan adem tentunya.

Selain masalah kenyamanan, hal lain yang jadi pertimbangan saya adalah soal tanggung jawab.
Memiliki banyak follower atau pengikut bukanlah tanpa resiko. Jika kebaikan yang disebarkan lalu banyak ditiru dan diikuti, maka pahala amal jariyah Insya Allah menanti kita. Namun bagaimana jika keburukan yang sengaja maupun tidak sengaja disebarkan dan diikuti oleh sekian banyak follower kita? Maka dosa jariyah menanti di depan mata, jika tidak pernah bertaubat dan mencabut apa yang pernah kita sebarkan, berat tanggungjawabnya.

Fewer friends, less drama. Keep your circle small

chynatic | 2017

#NotetoMyself

Cantik, Hanya Untuk Dilihat

Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman lama terlibat dalam sebuah diskusi. Mungkin karena sudah lama tidak ngobrol ngalor ngidul. Diksusi kami membahas banyak hal. Salah satu hal yang kami ingat adalah tentang fenomena orang-orang yang begitu ingin menampilkan sisi-sisi pribadi dari hidupnya.

Rela menjadikan privasinya sebagai sesuatu yang umum. Rela memperlihatkan detail-detail dirinya secara total dan menjadi sesuatu yang umum. Pembahasan ini sebenarnya tentang kasus krisisnya tentang pasangan hidup ditengah-tengah kariernya yang menurut saya sudah cukup. Juga usianya yang menurut saya lebih dari cukup untuk masuk ke jenjang tanggung jawab yang berbeda.

Salah satu katanya menarik “kalau melihat perempuan-perempuan yang hilir mudik di instagram itu, cantik-cantik sih emang, captionnya pun luar biasa bijak. Tapi buat gue, mereka itu hanya untuk dilihat, tidak sampai membuat gue ingin menikah dengannya”. Ujarnya

Tentu jawaban ini bisa didebat, tapi saya tidak ingin mendebatnya. Apalagi itu hanya timbul dari asumsinya, tidak mengenal dengan baik dan personal siapa perempuan-perempuan yang hilir mudik di media sosialnya itu. Tapi saya lebih tertarik, sebab mengapa hal itu muncul di pikirannya.

Katanya “Entahlah, mungkin karena gue anak ekonomi kali ya, tapi ini mungkin ga ada hubungannya. Kalau kita berpikir secara ekonomi, ketika kita mau menjual sesuatu, katakanlah promosi, kita akan menampilkan yang terbaik yang bisa kita jual kepada si calon pembeli. Kalau kita tidak punya ini, kita punya itu. Kalau semua itu ditarik ke sisi manusia, kita bisa melihat secara langsung, kalau kita tidak mempunyai kecerdasan yang cukup, kita akan menawarkan tenaga atau kekuatan kita. Kalau kita tidak punya kekuatan dan kecerdasan, kita mungkin bisa menawarkan hal yang lain. Sampai ada yang paling ekstrem itu menawarkan tubuhnya, organnya, bahkan bayinya untuk dijual”.

Saya berusaha menyimak, cara berpikirnya memang sedikit menarik.

“Di media sosial itu, orang yang tidak punya berusaha menampilkan agar menjadi punya, manipulatif. Berusaha tampil secara fisik menarik. Entah dari tubuh, gaya hidup, makanan yang dimakan, tempat berpergiannya, dan sebagainya”.

Saya manggut-manggut.

“Dan terakhir, ketika ia tidak memiliki hal lain, seperti kecerdasan atau kemampuan-kemampuan lainnya, ia akan menampilkan kecantikannya, sebagai nilai jualnya”.

Terus kesimpulannya apa? Tanya saya

“Gue nyari yang cerdas, yang rendah hati, yang tau adab dan menjaga diri, dan yang seperti itu, gue tau mereka ga akan menawarkan dirinya melalui kecantikan diri dengan make up, pakaian paling anggun, sambil makan cantik di tempat hits, karena mereka tau nilai jual mereka bukan di kecantikan”.

Saya manggut-manggut lagi.

“Dan yang seperti itu, mainannya tidak di dunia maya”, katanya mantab sambil menyeruput es teh terakhirnya.