Fatamorgana

Sudah menjadi lumrah kehidupan di dunia 

Cabaran dan dugaan mendewasakan usia 

Rintangan dilalui tambah pengalaman diri 

Sudah sunnah ketetapan ilahi 
Deras arus dunia menghanyutkan yang terleka 

Indah fatamorgana melalaikan menipu daya 

Dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi 

Tiada sudahnya dunia yang dicari 
Begitu indah dunia siapapun tergoda 

Harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa 

Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai 

Syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi 
Pulanglah kepada Tuhan 

Cahaya kehidupan 

Keimanan ketaqwaan kepadanya 

Senjata utama 
Sabar menempuh jalan tetapkan iman di hati 

Yakinkan janji Tuhan syurga yang sedia menanti 

Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba 

Hidup akhirat kita kekal selamanya

Cara

Aku hanya belum menemukan cara bagaimana untuk bisa mengenalmu. Boleh beri sedikit waktu? Karena barangkali bukan hari ini. Aku hanya belum menemukan cara untuk memenuhi setiap kriteriamu. Barangkali kamu mengizinkanku untuk mempelajarinya? Karena ada hal-hal yang bisa aku usahakan untuk memenuhinya. Aku hanya belum menemukan caranya. Termasuk menemukan cara agar sabar tidak selalu aku ukur dengan batasan waktu.

Doa Ibu

Sore itu, tepatnya sehari sebelum Idul Fitri 1438 H, saya merapikan tumpukan buku yang berserakan di atas meja belajar dan tanpa sengaja mendapati kertas yang bertuliskan di atas yang kurang lebih isinya seperti ini

 

Allahumma barik fi auladi wahfazhhum wala tazhutrahum warzuqna birrahum

Ya Allah berilah kebaikan yang banyak pada anak-anakku. Jagalah mereka dan jangan Kau celakakan mereka. Karuniakanlah kami kebaikan.

Saya tahu betul bahwa ini tulisan ibu saya, sekilas saya kurang bisa membaca dengan jelas tulisan beliau karena kekurangmampuan saya untuk membaca tipikal tulisan ala ala dokter, maklum ibu saya memang bekerja di Rumah Sakit dan terbiasa menulis dengan tulisan seperti itu, mungkin karena keseringan menerjemahkan tulisan dokter. Intinya ketika saya membaca arti dari tulisan di bawahnya, seketika mata saya berkaca-kaca, terharu melihatnya. Seorang ibu meskipun sedingin apapun mereka, diam-diam mereka mendoakan untuk anak-anaknya, meskipun itu tidak ditunjukkannya dalam bentuk perhatian. Karena mereka telah menitipkan anak-anak mereka kepada pemiliknya.

 

Saya juga tidak tahu ada doa seperti ini, ini hasil dari browsing-browsing di mbah Google. Mungkin tidak terdapat hadits shahih atau dalil nya atau mungkin saya yang tidak tahu karena keterbatasan ilmu, tapi apapun itu, saya menjadi menyadari bahwa karunia, rejeki, perlindungan, keselamatan yang saya dapati selama ini pasti tidak terlepas dari peran doa ibu saya.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

 

Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.” (HR. Abu Daud no. 1536. Syaikh Al Albani katakan bahwa hadits ini hasan).

 

 

Saya sadar selama ini belum bisa membuat beliau bangga dengan saya, bahkan mungkin pernah mengecewakan beliau, tetapi apa yang beliau lakukan? Beliau tetap mendoakan anak-anaknya.

.

.

Mungkin saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan beliau berapapun itu, tapi saya berjanji untuk bisa menjadi anak yang Sholehah yang doanya akan menembus langit, berusaha sebaik mungkin apapun yang sedang saya hadapi tanpa menyakiti hati beliau.

.

.

Kita memang tidak bisa memilih ingin memiliki orang tua yang ideal seperti yang dicontohkan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan istrinya tapi justru kelebihannya kita syukuri dan kekurangannya kita yang harus di depan untuk membantu orang tua kita agar selamat dari kehinaan.

.

.

Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro. Ya Allah, ampunilah segala dosaku, dosa kedua orangtuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil.

.

.

Semoga Allah memudahkan kita berbakti kepada kedua orangtua, selama mereka masih hidup dan semoga kita juga dijauhkan dari mendurhakai keduanya.

.

.

Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat. Wa shalallahu’ala nabiyyina Muhammad wa’ala alihi wa shohbihi wa sallam. Wa barakallahu fiikum.

.

.

Jakarta

Friday, June 30, 2017/Jumuah, 6 Syawwal 1438 H

2:00 AM

 

PRIA SEJATI

Menurutku, 1. jadi PRIA SEJATI itu harus punya tujuan hidup, mau kerja tahun berapa, nikah tahun berapa, dan goals apa saja yang ada dalam hidupnya. Kita WAJIB tahu, apakah goals yg ia “set” sesuai dengan goals kita atau tidak. Apakah mimpi yang hendak ia capai itu selaras dengan tujuan hidup kita atau tidak, sehingga kita bisa hidup bersama tanpa ADA SATU PIHAKPUN YANG SETENGAH HATI MENJALANINYA.

Yang ke-2, jadi PRIA SEJATI itu harus punya keseriusan dalam hubungannya. “Serius” ini bukan hanya persoalan hati saja, tapi hati dan logika, ia harus bisa membuat wanita-nya yakin bahwa ia serius dan punya tujuan yang jelas. Disamping itu, tunjukkan bahwa yang ia lalui saat ini itu dilakukan dengan bersungguh-sungguh, demi masa depan. Kalau ia sedang merintis karir, ya berikan effort semaksimal mungkin. Jika TIDAK, jangan buat wanita-nya mati sia-sia karena menunggu. Jangan sampai terjadi, wanita yang rela mengorbankan waktunya untuk mendampingi pria dari nol, tapi yang ditunggu nggak worth-it. Nggak punya tujuan dan keseriusan. Gimana cara nunjukin keseriusan? Gampang, untuk para pria, simple, kasih tahu tujuan hidupmu dan tunjukan “dimana” posisi calon istrimu nantinya. Wanita harus menemani dari nol, harus RELA MENUNGGU. Betul, tapi yang harus digarisbawahi, jangan sampai menemani dari nol dan menunggu, tapi yang “ditemani” tidak punya 2 poin di atas.
Menjalani sebuah hubungan apalagi pernikahan artinya ada visi dan misi yang harus diselaraskan. Sebagai laki-laki yang nantinya akan menjadi kepala rumah tangga, target dan tujuan hidup yang jelas akan menjadi nilai tambah. Perempuan pastinya akan lebih condong kepada laki-laki yang sudah jelas arah hidupnya akan dibawa kemana. Banyak orang bilang kalau perempuan haruslah mau untuk menemani dari nol, tapi yang harus digarisbawahi, jangan sampai ditemani dari nol tapi tak ada kemauan dan tekad yang kuat untuk mencapai target dan tujuan hidup yang sudah disusun rapi.
selmadena

Apa yang Lebih Penting dari Pernikahan? 

Rasulullah pernah ditanya, “Apa yang lebih penting dari shalat?” Beliau menjawab, “Ruh shalat!”, yaitu ruh yang menghidupkan shalat. Beliau juga pernah ditanya tetang apa yang lebih penting dari shaum (puasa), dan beliau menjawab bahwa yang lebih penting dari shaum adalah ruh shaum. Untuk setiap pertanyaan yang berkenaan dengan ibadah ritual, jawabannya selalu sama; karena ruh (spirit) membawa gerak ke dalam kehidupan dan memunculkan kekuatan-kekuatannya. Tanpa ruh yang menggerakkan itu, shalat hanyalah gerakan-gerakan, dan puasa hanyalah lapar. Tapi ketika ruhnya masuk, ketika niat murni dan pemusatan pikiran masuk, gerakan-gerakan itu mengalami transformasi (perubahan bentuk). Shalat mendapatkan daya menjadi mi’raj (sarana perjalanan ruhani mencapai posisi yang lebih tinggi; sarana peningkatan kesadaran intelektual dan iman, pen.), dan puasa memunculkan daya untuk mampu menemukan lailatul-qadr(i) (sebuah masa – momentum – turunnya ‘ruh’ yang lain, yaitu ruh pencerah kesadaran budaya, yakni wahyu Allah, pen.).

Lantas, apakah yang lebih penting dari pernikahan? Tentu saja yang lebih penting darinya adalah ruh pernikahan. Yaitu niat yang mendasarinya, yang merupakan gudang yang isinya tersembunyi, yang harus diketahui dan dikeluarkan oleh pasangan pernikahan itu sendiri. Allah memberikan peringatan dan isyarat agar kita mempelajari hal itu. Dalam surat Al-A’raf ayat 189, misalnya, dikatakan: Dialah yang menciptakan kalian dari satu rumusan, dan darinya pula Dia jadikan pasangannya, supaya merasa tenteram berdampingan dengannya… Dengan demikian, pria dan wanita saling melengkapi. Bersama-sama, mereka membentuk satu diri; dan ini harus diusahakan oleh mereka berdua, yaitu berusaha agar mereka menjadi seolah-olah satu makhluk, satu diri, satu nyawa. Firman Allah pula, dalam surat Al-Baqarah ayat 187: Mereka (istri kalian) adalah pakaian kalian, dan kalian (para suami) adalah pakaian bagi mereka. Dengan demikian, suami dan istri saling melengkapi. Mereka masing-masing memunculkan sebuah sisi baru dari kemanusiaan mereka, dan mendalami kepribadian mereka dengan memasuki dunia pernikahan. Itulah yang digambarkan secara simbolis dalam ayat di atas. Sebagaimana pakaian menutup tubuh dan melindungi pemakainya, begitulah suami dan istri satu sama lain menjadi pelindung dan pembantu, dan satu sama lain mereka menjaga kehormatan, membentuk pernikahan menjadi sebuah sarang dan tempat perlindungan, yang di dalamnya suami-istri merasa nyaman dan aman, karena terlindung di dalam kepedulian dan penjagaan yang dilakukan secara bersama-sama. 

Ditegaskan Allah pula dalam surat Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasangan. (Dengan maksud) agar kalian menyadari (mengapa diciptakan demikian). Istilah untuk pasangan dalam Al-Qurãn adalah zauj (زوج), yang harfiahnya berarti “bagian dari suatu pasangan”. Ketika satu bagian bertemu (berpasangan) dengan bagian yang lainnya, lalu bekerja sama dalam suatu tindakan, maka berbagai daya yang selama ini tersimpan pun muncul. Inilah rahasia dari seluruh ciptaan (yang berpasang-pasangan itu). Dan pernikahan manusia ditegaskan Al-Qurãn sebagai cerminan dari sifat dan kecenderungan yang terdapat dalam semua tingkat ciptaan. Ketika sesuatu diciptakan sebagai bagian dari suatu pasangan, maka jelas keberadaannya menjadi tidak lengkap tanpa kehadiran bagian yang lainnya. Karena itulah Allah menegaskan dalam surat An-Najm(u) ayat 45 bahwa Ia sengaja menciptakan makhluk berpasangan, terdiri dari (jenis) lelaki dan wanita (jantan dan betina).

Istilah nikãh sendiri pun digunakan secara kiasan untuk menggambarkan perpaduan mesra berbagai aspek ciptaan. Dalam Al-Qurãn, misalnya, dikatakan bahwa hujan ‘menikahi’ tanah, dan kemudian digambarkan bagaimana dari perpaduan mesra itu tumbuh bersemi berbagai bentuk kehidupan. Tanah menumbuhkan bunga dan sayuran, membuka peluang bagi makhluk-makhluk baru, kehidupan baru, potensi-potensi baru. Jadi, tindakan pernikahan, perpaduan melalui pernikahan dalam konsep Islam adalah jalur segala hal dalam jalinan dan rantai penciptaan. Setiap pasangan dalam pernikahan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan dan istimewa dalam konteks pernikahan itu sendiri. Masing-masing pasangan itu tidak identik (sama persis), tapi satu sama lain menjadi pelengkap dan memunculkan hal unik, yang tidak akan pernah muncul bila pernikahan tidak dilakukan. Setiap individu dari satu pasangan mengalami perubahan dan transformasi ketika mereka berpadu dalam pernikahan, karena pernikahan adalah perpaduan sempurna antardiri, jiwa, kepribadian dan dua makhluk yang berbeda (tapi merupakan pasangan). Dalam pernikahan manusia, perubahan terjadi dalam banyak hal; mulai dari perubahan gaya hidup, perilaku, dan jiwa setiap individunya sendiri. Dan pasti harus ada kehendak, dari pihak kedua individu, untuk mengijinkan transforasi yang mempersatukan itu terjadi. Bila berharap hal itu terjadi dengan sendirinya, berarti ada penguncian satu pihak yang mengarah pada pembekuan dan penyempitan satu diri tetap sebagai satu diri, bukan menjadi bagian dari satu pasangan yang berpadu secara intim. Hal ini juga berarti pembelengguan dan penguncian potensi, keindahan dan kekuatan yang dapat muncul dari perpaduan mesra yang seharusnya terbentuk melalui pernikahan. Karena “Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan”, seperti dinyatakan dalam Al-Qurãn, dan karena Allah menciptakan lelaki dan wanita dari satu rumusan, maka Allah pula yang merupakan pusat rujukan bagi setiap pasangan yang menikah. “Dialah yang menciptakan keseimbangan” segala hal. Karena itu, Dia pula yang harus dirujuk untuk mendapatkan keseimbangan hidup. Bila kedua pasangan dalam pernikahan menata sedemikian rupa hubungan mereka dengan Allah, maka bisa dipastikan keseimbangan sempurna akan dirasakan dalam kehidupan mereka. Cinta adalah pergerakan menuju persatuan, kesatuan. Dan karena Allah itu Satu (yang juga mengajarkan satu konsep kehidupan, pen.), maka semakin dekat sang hati kepada Yang Satu, semakin kuat pula daya cinta yang tumbuh. Cinta adalah gerakan menuju persatuan, menutu kesatuan. Seperti digambarkan dalam surat Al-Anfal ayat 63, melalui ajaranNya, Allah mempersatukan hati-hati yang bermusuhan. Persatuan timbul melalui cahaya kesatuan yang dihasilkan ruh cinta dan kekeluargaan yang ada di hati. Karena cinta adalah bayangan Kesatuan, kekeluargaan adalah bayangan cinta, dan keseimbangan adalah bayangan kekeluargaan. Maka, biarkanlah pasangan-pasangan yang menikah menjadi pembantu dan pelindung satu sama lain. Biarkanlah mereka menjadi pakaian-pakaian yang indah bagi satu sama lain, dan biarkanlah mereka mengalami bersama banyak perbendarharaan dan keindahan pernikahan. 
(Dari IslamCity, Irshaad Hussain, 12/01/2011)

Orangtua adalah Pintu Kesuksesan Kita

Pintu kebahagiaan, kesuksesan, dan keuntungan itu ada di telapak tangan orangtua kita. Cium tangannya sesering mungkin.

Setelah panggilan Allah, jadikan panggilan orangtua sebagai “azan” yang kita datangi segera mungkin. 

Jangan reject telponnya, jangan potong pembicaraannya. Jangan duduk di tempat duduknya. Hormati mereka seperti Raja kita, maka Allah akan mendatangkan berkah dalam hidup kita. 

Kalau ada masalah dalam hidup kita, libatin Allah, terus datangi orangtua, baru lakukan ikhtiar-ikhtiar yang lain. #selfreminder #notetomyself