PRIA SEJATI

Menurutku, 1. jadi PRIA SEJATI itu harus punya tujuan hidup, mau kerja tahun berapa, nikah tahun berapa, dan goals apa saja yang ada dalam hidupnya. Kita WAJIB tahu, apakah goals yg ia “set” sesuai dengan goals kita atau tidak. Apakah mimpi yang hendak ia capai itu selaras dengan tujuan hidup kita atau tidak, sehingga kita bisa hidup bersama tanpa ADA SATU PIHAKPUN YANG SETENGAH HATI MENJALANINYA.

Yang ke-2, jadi PRIA SEJATI itu harus punya keseriusan dalam hubungannya. “Serius” ini bukan hanya persoalan hati saja, tapi hati dan logika, ia harus bisa membuat wanita-nya yakin bahwa ia serius dan punya tujuan yang jelas. Disamping itu, tunjukkan bahwa yang ia lalui saat ini itu dilakukan dengan bersungguh-sungguh, demi masa depan. Kalau ia sedang merintis karir, ya berikan effort semaksimal mungkin. Jika TIDAK, jangan buat wanita-nya mati sia-sia karena menunggu. Jangan sampai terjadi, wanita yang rela mengorbankan waktunya untuk mendampingi pria dari nol, tapi yang ditunggu nggak worth-it. Nggak punya tujuan dan keseriusan. Gimana cara nunjukin keseriusan? Gampang, untuk para pria, simple, kasih tahu tujuan hidupmu dan tunjukan “dimana” posisi calon istrimu nantinya. Wanita harus menemani dari nol, harus RELA MENUNGGU. Betul, tapi yang harus digarisbawahi, jangan sampai menemani dari nol dan menunggu, tapi yang “ditemani” tidak punya 2 poin di atas.
Menjalani sebuah hubungan apalagi pernikahan artinya ada visi dan misi yang harus diselaraskan. Sebagai laki-laki yang nantinya akan menjadi kepala rumah tangga, target dan tujuan hidup yang jelas akan menjadi nilai tambah. Perempuan pastinya akan lebih condong kepada laki-laki yang sudah jelas arah hidupnya akan dibawa kemana. Banyak orang bilang kalau perempuan haruslah mau untuk menemani dari nol, tapi yang harus digarisbawahi, jangan sampai ditemani dari nol tapi tak ada kemauan dan tekad yang kuat untuk mencapai target dan tujuan hidup yang sudah disusun rapi.
selmadena

Apa yang Lebih Penting dari Pernikahan? 

Rasulullah pernah ditanya, “Apa yang lebih penting dari shalat?” Beliau menjawab, “Ruh shalat!”, yaitu ruh yang menghidupkan shalat. Beliau juga pernah ditanya tetang apa yang lebih penting dari shaum (puasa), dan beliau menjawab bahwa yang lebih penting dari shaum adalah ruh shaum. Untuk setiap pertanyaan yang berkenaan dengan ibadah ritual, jawabannya selalu sama; karena ruh (spirit) membawa gerak ke dalam kehidupan dan memunculkan kekuatan-kekuatannya. Tanpa ruh yang menggerakkan itu, shalat hanyalah gerakan-gerakan, dan puasa hanyalah lapar. Tapi ketika ruhnya masuk, ketika niat murni dan pemusatan pikiran masuk, gerakan-gerakan itu mengalami transformasi (perubahan bentuk). Shalat mendapatkan daya menjadi mi’raj (sarana perjalanan ruhani mencapai posisi yang lebih tinggi; sarana peningkatan kesadaran intelektual dan iman, pen.), dan puasa memunculkan daya untuk mampu menemukan lailatul-qadr(i) (sebuah masa – momentum – turunnya ‘ruh’ yang lain, yaitu ruh pencerah kesadaran budaya, yakni wahyu Allah, pen.).

Lantas, apakah yang lebih penting dari pernikahan? Tentu saja yang lebih penting darinya adalah ruh pernikahan. Yaitu niat yang mendasarinya, yang merupakan gudang yang isinya tersembunyi, yang harus diketahui dan dikeluarkan oleh pasangan pernikahan itu sendiri. Allah memberikan peringatan dan isyarat agar kita mempelajari hal itu. Dalam surat Al-A’raf ayat 189, misalnya, dikatakan: Dialah yang menciptakan kalian dari satu rumusan, dan darinya pula Dia jadikan pasangannya, supaya merasa tenteram berdampingan dengannya… Dengan demikian, pria dan wanita saling melengkapi. Bersama-sama, mereka membentuk satu diri; dan ini harus diusahakan oleh mereka berdua, yaitu berusaha agar mereka menjadi seolah-olah satu makhluk, satu diri, satu nyawa. Firman Allah pula, dalam surat Al-Baqarah ayat 187: Mereka (istri kalian) adalah pakaian kalian, dan kalian (para suami) adalah pakaian bagi mereka. Dengan demikian, suami dan istri saling melengkapi. Mereka masing-masing memunculkan sebuah sisi baru dari kemanusiaan mereka, dan mendalami kepribadian mereka dengan memasuki dunia pernikahan. Itulah yang digambarkan secara simbolis dalam ayat di atas. Sebagaimana pakaian menutup tubuh dan melindungi pemakainya, begitulah suami dan istri satu sama lain menjadi pelindung dan pembantu, dan satu sama lain mereka menjaga kehormatan, membentuk pernikahan menjadi sebuah sarang dan tempat perlindungan, yang di dalamnya suami-istri merasa nyaman dan aman, karena terlindung di dalam kepedulian dan penjagaan yang dilakukan secara bersama-sama. 

Ditegaskan Allah pula dalam surat Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasangan. (Dengan maksud) agar kalian menyadari (mengapa diciptakan demikian). Istilah untuk pasangan dalam Al-Qurãn adalah zauj (زوج), yang harfiahnya berarti “bagian dari suatu pasangan”. Ketika satu bagian bertemu (berpasangan) dengan bagian yang lainnya, lalu bekerja sama dalam suatu tindakan, maka berbagai daya yang selama ini tersimpan pun muncul. Inilah rahasia dari seluruh ciptaan (yang berpasang-pasangan itu). Dan pernikahan manusia ditegaskan Al-Qurãn sebagai cerminan dari sifat dan kecenderungan yang terdapat dalam semua tingkat ciptaan. Ketika sesuatu diciptakan sebagai bagian dari suatu pasangan, maka jelas keberadaannya menjadi tidak lengkap tanpa kehadiran bagian yang lainnya. Karena itulah Allah menegaskan dalam surat An-Najm(u) ayat 45 bahwa Ia sengaja menciptakan makhluk berpasangan, terdiri dari (jenis) lelaki dan wanita (jantan dan betina).

Istilah nikãh sendiri pun digunakan secara kiasan untuk menggambarkan perpaduan mesra berbagai aspek ciptaan. Dalam Al-Qurãn, misalnya, dikatakan bahwa hujan ‘menikahi’ tanah, dan kemudian digambarkan bagaimana dari perpaduan mesra itu tumbuh bersemi berbagai bentuk kehidupan. Tanah menumbuhkan bunga dan sayuran, membuka peluang bagi makhluk-makhluk baru, kehidupan baru, potensi-potensi baru. Jadi, tindakan pernikahan, perpaduan melalui pernikahan dalam konsep Islam adalah jalur segala hal dalam jalinan dan rantai penciptaan. Setiap pasangan dalam pernikahan menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan dan istimewa dalam konteks pernikahan itu sendiri. Masing-masing pasangan itu tidak identik (sama persis), tapi satu sama lain menjadi pelengkap dan memunculkan hal unik, yang tidak akan pernah muncul bila pernikahan tidak dilakukan. Setiap individu dari satu pasangan mengalami perubahan dan transformasi ketika mereka berpadu dalam pernikahan, karena pernikahan adalah perpaduan sempurna antardiri, jiwa, kepribadian dan dua makhluk yang berbeda (tapi merupakan pasangan). Dalam pernikahan manusia, perubahan terjadi dalam banyak hal; mulai dari perubahan gaya hidup, perilaku, dan jiwa setiap individunya sendiri. Dan pasti harus ada kehendak, dari pihak kedua individu, untuk mengijinkan transforasi yang mempersatukan itu terjadi. Bila berharap hal itu terjadi dengan sendirinya, berarti ada penguncian satu pihak yang mengarah pada pembekuan dan penyempitan satu diri tetap sebagai satu diri, bukan menjadi bagian dari satu pasangan yang berpadu secara intim. Hal ini juga berarti pembelengguan dan penguncian potensi, keindahan dan kekuatan yang dapat muncul dari perpaduan mesra yang seharusnya terbentuk melalui pernikahan. Karena “Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan”, seperti dinyatakan dalam Al-Qurãn, dan karena Allah menciptakan lelaki dan wanita dari satu rumusan, maka Allah pula yang merupakan pusat rujukan bagi setiap pasangan yang menikah. “Dialah yang menciptakan keseimbangan” segala hal. Karena itu, Dia pula yang harus dirujuk untuk mendapatkan keseimbangan hidup. Bila kedua pasangan dalam pernikahan menata sedemikian rupa hubungan mereka dengan Allah, maka bisa dipastikan keseimbangan sempurna akan dirasakan dalam kehidupan mereka. Cinta adalah pergerakan menuju persatuan, kesatuan. Dan karena Allah itu Satu (yang juga mengajarkan satu konsep kehidupan, pen.), maka semakin dekat sang hati kepada Yang Satu, semakin kuat pula daya cinta yang tumbuh. Cinta adalah gerakan menuju persatuan, menutu kesatuan. Seperti digambarkan dalam surat Al-Anfal ayat 63, melalui ajaranNya, Allah mempersatukan hati-hati yang bermusuhan. Persatuan timbul melalui cahaya kesatuan yang dihasilkan ruh cinta dan kekeluargaan yang ada di hati. Karena cinta adalah bayangan Kesatuan, kekeluargaan adalah bayangan cinta, dan keseimbangan adalah bayangan kekeluargaan. Maka, biarkanlah pasangan-pasangan yang menikah menjadi pembantu dan pelindung satu sama lain. Biarkanlah mereka menjadi pakaian-pakaian yang indah bagi satu sama lain, dan biarkanlah mereka mengalami bersama banyak perbendarharaan dan keindahan pernikahan. 
(Dari IslamCity, Irshaad Hussain, 12/01/2011)

Orangtua adalah Pintu Kesuksesan Kita

Pintu kebahagiaan, kesuksesan, dan keuntungan itu ada di telapak tangan orangtua kita. Cium tangannya sesering mungkin.

Setelah panggilan Allah, jadikan panggilan orangtua sebagai “azan” yang kita datangi segera mungkin. 

Jangan reject telponnya, jangan potong pembicaraannya. Jangan duduk di tempat duduknya. Hormati mereka seperti Raja kita, maka Allah akan mendatangkan berkah dalam hidup kita. 

Kalau ada masalah dalam hidup kita, libatin Allah, terus datangi orangtua, baru lakukan ikhtiar-ikhtiar yang lain. #selfreminder #notetomyself

THE QUEST FOR LOVE

Relationships has never been something I’m brave enough to write about, especially in public. The love between a man and a woman to me is very personal. Add religion into the equation and it just becomes very sacred to me.

Before we jump into the topic, yes I am single. Have I ever been in a relationship? The answer is also yes. I know how it feels like to love and be loved the same way I know how it feels to be completely shattered. You see, different people have different definitions of love. I strongly believe that the people we fall in love with can sometimes reflect the kind of person we are. For instance, I really value religion, knowledge and ambition. Thus, if i were to marry someone, I look for someone with these exact characteristics. I want someone who has the same goals that I have. Someone who will not only fight with me to succeed in this world, but also in the hereafter. I need someone who works just as hard as I do, not someone who is always tired and only cares about sleep. No more time should be wasted with whiny and lazy ambitionless boys. If you’re serious to pursue a relationship, look for a man.

If there’s one thing a relationship has taught me, it is the importance of maturity when it comes to love. NEVER indulge in a relationship just because it’s a ‘nice’ feeling. If you want to be with someone might as well be with a person who will help bring the best out of you, spiritually, mentally and also emotionally. If the relationship you are in is leading you towards the haraam, leave. No buts. It is just the end of a toxic relationship, not the end of the world.

By the way people, it is perfectly OKAY to be single. I have been single for over seven year now, and wallahi I have never been this happy and I have been achieving so much. I always tell my friends that when you are single, you have 27 hours a day. What it essentially mean is that you’ll have more time for yourself. I know some people who can only seek comfort in the presence of their significant other. After one relationship ends they feel the need to jump into another. Chill people, chill. Take a breather. You don’t need another person to feel sufficient. Try to be comfortable and at peace with yourself with or without a relationship. You have the rest of your life to be spent with your significant other, so while you’re single, might as well really embrace/enjoy it.

Okay last point before I hit the sack, never settle. Ya Allah I can’t stress this enough. Being single is better than being with the wrong person. As they say, it’s better to wait long than marry wrong. If we dont know what we deserve, we will always settle for less. But to deserve more, we should first be more. Build your character before you choose to build a family. Study hard, learn new skills, take up a hobby, read more, travel. There’s so much that can be done when you’re single for your personal development. Take care of yourself. Your health, spirituality, intelligence, akhlak (good character) etc & insya Allah you’ll get someone who’d do the same for you.

Jim Rohn once said, “The greatest gift you can give somebody is your own personal development. I used to say, ‘If you will take care of me, I will take care of you.’ Now I say, ‘I will take care of me for you, if you will take care of you for me”.

I know this entry is all over the place, but I’m half awake so do forgive me. I hope you find this post helpful. As for me, call me philophobic but I am personally afraid to be in a relationship again. But when the time comes, I hope the guy I end up with will be proud with the lady I have become. If you happen to read this, whoever you may be, please know that not a day passes that I don’t make do’a for you, and for us. Wherever you are in this world, I hope you are also striving to be your best self. May Allah make it easy for us to find our way to each other. See you when I see you!

Ending this cringey post with one of my favorite quotes from Rumi, ‘Lovers don’t finally meet somewhere. They’re in each other all along.’


Lots of love,

Semua Tentang Wanita Shalehah

Suatu ketika, saya pernah membaca tulisan Saudari Ratna di sebuah fanpage FacebookSemua Tentang Wanita Shalehah. Tulisan yang sangat indah tentang seorang istri yang sangat mulia. Berikut tulisannya.

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang tawadhu

Yang tak perlu perhiasan dan baju yang mewah, yang merasa cukup dengan apa yang ada, yang selalu bersyukur dengan pemberian suaminya

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang senang membuat hati suaminya senang.

Yang bahagia jika suami bahagia, yang hatinya gembira walau peluh mendera, yang tulus menjaga buah hati, dan bersungguh-sungguh menjaga amanah dari suaminya.

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang segan membuka handphone suami.

Yang tak perlu tahu urusan suaminya karena mempercayainya.

Dan ia tambatkan keimanan penuh pada Allah bahwa Allah telah jodohkan ia dengan sosok suami yang saleh.

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang takut membuat suaminya marah.

Yang tak mau membuat suami kecewa, yang selalu meminta izin pada suaminya, dalam hal yang remeh sekalipun, walau sejatinya suaminya adalah suami yang amat rendah hati lagi pemaaf.

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang pemalu.

Yang malu jika suaminyatahu semua aibnya.

Maka ia senantiasa beristighfar pada Allah agar menutup aib-aibnya, walau kepada sosok yang seatap sekalupun.

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang malu meminta-minta pada suaminya.

Yang malu jika permintaannya memberatkan suaminya, yang malu jika ia menjadi beban bagi suaminya, yang malu menyusahkan suaminya, sekalipun suaminya tak pernah melarang apapun untuknya selama dalam hal yang makruf.

 

Saya selalu takjub, kepada para istri yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi suaminya.

Yang tak lelah berbuat baik pada suaminya, yang tak malu menjadikan suaminya bbak raja, yang bersungguh-sungguh mengetuk pintu langit memohon ampunan bagi suaminya, yang mengemis pada Pemilik langit dan bumi, sekalipun hati suaminya sekefras batu, sekalipun tabiat suaminya tak lagi lembut, sekalipun suaminya tak berbuat adil bahkan zalim padanya.

 

Ya!

Saya selalu takjub, kepada para istri shalehah yang tak dipandang oleh manusia karena tampilannya yang tak indah dilihat wajah-wajah para pecinta ketenaran.

Yang pakaiannya tak menarik bagi para pecinta dunia yang fana.

Yang pembicaraannya tak enak didengar bagi para pecinta bangkai.

Namun, mereka sanggup.

Ya! Mereka sanggup membuat penghuni langit memuji mereka karena ketakwaan mereka kepada Rabbnya.

 

Sungguh malu diri ini yang merasa amat angkuh hingga pelajaran berharga dari seorang guru di depan mata pun tak dilakukan.

 

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita semua hati sebersih air hujan dan seputih salju untuk mudah mendapat hidayah dan senantiasa kita rengkuh hingga ajal datang menjemput.

Aamiin Allahumma aamiiin.

 

 

Note : Semoga hamba bisa menjadi istri shalehah yang selalu dapat menyenangkan hati suami hamba kelak. Semangat berproses menjadi lebih baik lagi Mba Ritaaaaaaaa!!!!!!

The Real Muslimah

Menjadi saleha itu butuh proses, kita mengerti hal ini. Tapi, kadang kita bingung dari mana memulainya dan bagaimana caranya. Kalau asal memperbaiki diri, kita akan menemukan banyak kesulitan. Dan kalau sekadar berubah, biasanya kita tak bisa istiqamah.

Sama seperti orang yang menempuh perjalanan berbagai kesulitan dan rasa lelah juga dirasakan oleh mereka yang sedang berhijrah. Tapi selama mereka tak putus asa, in syaa Allah suatu hari nanti mereka akan menjadi pribadi yang lebih saleha.

Semangat berhijrah Mba Rita 😉😊

Pernahkah kau merasa kita semua terlahirkan ke dunia dengan membawa tanda tanya agung? Tanda tanya itu bersembunyi sangat halus di setiap atom tubuh kita, membuat manusia terus bertanya, dihantui, sehingga seolah-olah misi hidupnya untuk menjawab tanda tanya itu.

Tanda tanya yang sama menggantungi setiap atom di semesta ini, bukan eksklusif milik manusia saja.

Hanya ekspresinya yang berbeda-beda.

Kemana pun kita berpaling, sejauh apapun kita berlari, kita akan selalu bertemu dengannya. 

Kau tau?

Perasaanku mengatakan, tanda tanya itulah substansi dasar yang mempersatukan kita semua.

Seluruh semesta ini.

______

KPBJ – Dee Lestari

Dunia itu Melenakan

Right!

Dunia itu sangat melenakan. Kau terlalu sibuk dengan duniamu sehingga menyepelekan panggilan Tuhanmu? Kau pikir, siapa yang menghidupimu sampai detik ini?

Ya Allah, semuanya memuakan! Munafik, saling mengejar jabatan, uang, lifestyle. Apa ini? Apa mereka orang-orang yang Kau kirim untuk menjadikanku lebih sabar, lebih dewasa, lebih bijaksana? Lewat mereka ujianku Kau hadirkan? Ujian untuk melihat apakah aku mementingkan pekerjaanku (a.k.a takut dengan mereka) atau takut denganMu? Ya Allah, aku lebih takut denganMu, tapi aku tidak berdaya. Tolong keluarkan aku dari lingkaran orang-orang itu.

Kode dari Boss Besar

Oleh: Ust. Felix Siauw
Udah dikasih kode, kok engga peka……

Kode apa sih?

Jadi gini, pernah gak temen2 lagi enak2nya tidur….eh tiba2 banyak nyamuk yang menggigit kita, akhirnya terbangun dari tidur. Lihat jam ternyata jam 02.00

Lalu ambil obat nyamuk, terus tidur lagi

😴😴😴

Setengah jam kemudian terbangun lagi karena kebelet buang air kecil, setelah buang air lihat jam ternyata masih jam 02.30 Ya udah deh, tidur lagi.

💤💤💤

Lalu Udara dingin banget, bangun terus ambil selimut. Ternyata masih jam 03.00, Pasang selimut terus tidur lagi, dengan kehangatan selimut.

😴😴😴

💤💤💤

Terbangun…

Huff… ternyata tadi mimpi buruk, Lihat jam masih jam 03.30

“Tidur lagi ah, lumayan Shubuh masih lama ini”

😴😴😴 💤💤💤

Sering kali kita tidak peka terhadap hal seperti itu, tidakkah kita merasa itu adalah kode dari Allah bahwa Allah sedang kangen sama kita?

❓❓❓

Allah ingin kita sholat malam, ingin mendengar doa2 kita dan curhat kita Allah lagi rindu sm kita
Di sepertiga malam Allah turun dari ‘Arsy menuju langit bumi

Allah datang… eh kita malah tidur..

😴😴😴

☝ ☝ ☝

Katanya pengen hidup berubah, sukses, pengen meng-hajikan orang tua, pengen punya rumah, pengen punya mobil dan motor

🏡…🚘…🏍… ✈️

Coba bayangkan sudah berapa kali kita abaikan kode – kode dari Alloh??

❓❓❓

☝ ☝ ☝

Nanti malam kalau dapat kode dari Alloh, peka ya teman2 😊😊…

Terus curhat deh pengen apa aja 😂😂
Moga bermanfaat 🙏
Rasulallah SAW bersabda :”Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), maka dia akan tetap memperoleh pahala.” (HR. Al-Bukhari)