Kelak

Bahwa kelak, kita bukan hanya membutuhkan suami yang baik, terlebih penting dari itu adalah kita membutuhkan sosok suami sebagai ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak. Seorang laki-laki yang paham bagaimana akan mendidik generasi penerus peradaban Islam. Seorang laki-laki yang paham bagaimana akan menjadi contoh terbaik yang dilihat anaknya, dan laki-laki itu tau kepada siapa dia akan meneladani agar pantas menjadi panutan anak-anaknya, kepada dialah teladan terbaik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.Semoga doa-doa selalu melangit, agar Allah karuniakan yang terbaik dengan ridha-Nya ❤

.

Aamiin 

Bagi “Aku” Music itu Halal

“Apa tidak termasuk berlebih lebihan orang yang mengharamkan music ? Kok bisa, sesuatu yg bisa membuat kita mendayu dayu, sesuatu yg bisa membuat kita mengkhayal, kok bisa haram ustadz? Kita aja yg dengar suara suara burung itu halal kan? Kok ada orang orang yg bilang music itu haram, dari mana itu ustadz?”

.

“Lalu apakah ini hanya masalah khilafiyah (perbedaan pandanganan antara para ulama), lantas ada yg bilang music itu haram ada juga bilang yg halal kan?”

.

Jawab :

.

Sebelum saya jawab, saya mau crita dlu, 20 tahun yg lalu

Ana dlu belajar di pesantren di al irsyad al islamiyah, di Bondowoso. Pesantren ini belum mengenal sunnah, tapi para pengajarnya top. 5 tahun kita dididik untuk mencintai music, bahkan di kegiatan kita , kita diajari marawis, bermain music, dan di pesantren kita, kita punya klub drumband terkenal.

.

Pada akhirnya di pesantren tsb terjadi keributan, antara dua pesantren, antara al irsyad bondowoso dengan pesantren al irsyad tenggareng salatiga. Dialog terjadi antara dua pesantren.

.

Kalau bondowoso mencintai music, klo yg salatiga mengharamkan music

Ana ditanya saat itu, 

“fiq, menurut ente, music itu apa hukumnnya”

.

Ana jawab, ada dua pendapat, satu bilang halal, satu bilang haram, ane pilih yg halal (maklum waktu itu masih anak anak)

Berlalu lah kejadian itu.

.

Tapi kita seorang diwajibkan untuk belajar, untuk lebih mengkaji, apakah benar, jika ada khilafiyah, kita bebas memilih sesuka hati? Atau kita sebagai hamba harus hati hati ?

.

Ternyata tidak semua khilaf itu bisa diterima, kecuali memang khilaf yg ada ruang untuk berbeda pendapat di situ.

“APAKAH KHILAF MUSIK INI TERMASUK YG ADA RUANG UNTUK BERBEDA PENDAPAT?”

Ternyata setalah ana belajar, ternyata perselisihan itu tidak bisa diterima. Kenapa ?

.

Ternyata Imam 4 yg mahsyur itu mengharamkan music, namun ada imam yg lain yg menghalalkan, yaitu imam ibnu hazm. Ibnu hazm berpendapat bahwa music itu halal.

.

Mari kita teliti, menurut ibnu hazm dalam kitab “Al muhala Ibnu Hazm”, 

“semua dalil tentang music ini adalah batil dan palsu”

Mari kita lihat semua hadis tentang music yg menurut ibnu hazm batil dan palsu, apakah benar palsu?

Sebelum itu, kita perlu ketahui bahwa Ibnu Hazm adalah ulama senior, tapi beliau tidak ahli dalam ilmu hadis, dan juga tidak seahli imam bukhari, ibnu hibban yg mensahihkan hadis tentang haramnya music.

Tapi fatwa ibnu hazm yg menghalal kan music, hamper seluruh ulama setelah ibnu hazm taklid (ikut) pada fatwa ibnu hazm. Jadi Muhammad algazali, syech yusuf alqdrawi semua mengikuti imam ibnu hazm.

.

Hadisnya adalah :

“akan datang suatu masa, orang orang itu akan menghalalkan, zina, sutera (bagi kaum lelaki), minuman keras, dan alat music”

Hadis ini tidak palsu, hadis ini mualak, imam bukhari menyebutkan hadis ini tidak secara musnad (sanadnya lengkap), namun menurut ibnu hajar al asqolani meneruskan hadis ini menjadi 9 jalur yg langsung tersambung oleh rasulullah sallallahu alaihi wasalam, dan hal ini diterima oleh ulama ulama mahzab dan menjadikan hadis ini patokan bahwa music itu haram.

.

Lalu kita lihat siapa saja yg mensahihkan hadis ini :

.

1. Imam Bukhari, beliau menyebutkan nya dalam kitab sahih bukhari

2. Ibnu hibban.

3. Al ismaili

4. Ibnu salah al syafii

5. Imam nawawi

6. Ibnu taimiyah al hambali

7. Ibnu qayim al hambali

8. Ibnu katsir

9. Ibnu hajar al asqolani

10. Ibnul wazir

11. Al amir alsamani

.

Itu adalah ulama ulama besar dalam hal hadits, lalu mengapa semua pada ikut ibnu hazm?

Ibnu hazm banyak mengarang kitab tentang fikih, tapi beliau tidak lebih senior dari imam bukhari, imam ahmad dalam hal hadis.

.

Analoginya, jika motor kita rusak, jangan dibawa ke tempat reparasi jam, ya ga akan betul, bawalah ke bengkel motor. Sama halnya dengan memilih hukum yg ada khilafiyah, khusus nya masalah music, pilihlah ulama yg ahli dalam bab nya. 

.

Maka dari pemaparan fakta di atas, apa kita masih mau mengikuti ibnu hazm dan menampikan keputusan dari imam 4 mahzab yg mengharamkan music?

Kesimpulannya, ibnu hazm memang ulama senior, tapi beliau yg mendhaifkan hadis tentang music merupakan bukan ulama ahli hadis dan tidak seahli imam bukhari, imam nawawi, dll, (tanpa mengurangi rasa hormat kepada beliau) kita sedang berbicara masalah agama, neraka atau surga.

.

Disarikan dari kajian DR. Syafiq Riza Basalamah MA

Menghayati Sejarah Nabi

Peristiwa Isra Mi’raj dan Persiapan Madinah Sebagai Tempat Hijrah

.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda :”…Lalu Allah SWT mewahyukan kepadaku suatu wahyu, yaitu Dia mewajibkan shalat kepadaku 50 kali sehari semalam. Lalu aku turun dan bertemu dengan Musa AS. Dia bertanya, “Apa yang telah difardhukan Tuhanmu atas umatmu?” Aku menjawab, “Shalat 50 kali sehari semalam”. Musa berkata, “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melakukannya. Akupun telah menguji dan mencoba Bani Israel”.

.

Maka akupun kembali kepada Tuhanku, lalu berkata, “Ya Tuhanku, ringankanlah bagi umatku, hapuslah lima kali”. Lalu aku kembali kepada Musa AS seraya berkata, Tuhanku telah menghapus lima kali shalat”. Musa as berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup shalat sebanyak itu. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka aku bolak-balik antara Tuhanku dan Musa AS hingga Dia berfirman, “Hai Muhammad, yang 50 kali itu menjadi 5 kali saja. Setiap kali setara dengan 10 kali sehingga sama dengan lima puluh kali shalat……”. Akupun turun hingga bertemu lagi dengan Musa as dan mengatakan kepadanya bahwa aku telah kembali kepada Tuhanku sehingga aku malu kepada-Nya”. (HR Muslim)

.

Perintah shalat 5 waktu dalam sehari semalam diatas diterima Rasulullah SAW ketika beliau melakukan Isra’ (dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha) dan Mi’raj (dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha di lapisan tertinggi langit). Perjalanan spektakuler dengan mengendarai “Buraq” (kendaraan terbang yang dikisahkan terbuat dari cahaya dan berbentuk kuda) ini merupakan imbalan bagi kesabaran Rasulullah SAW yang selama lebih dari 10 tahun telah bersabar menyampaikan pesan Sang Khalik kepada masyarakat Mekkah meskipun hasilnya tidak terlalu memuaskan.

.

Puncak cobaan bagi beliau adalah dipanggilnya kedua orang terdekat beliau yang selama ini selalu mendukung dakwah Rasulullah SAW yaitu Khadijah ra, sang istri tercinta dan Abu Thalib ra, paman beliau serta peristiwa Thaif dimana dakwah Rasulullah SAW di tolak mentah-mentah, bahkan beliaupun sempat dikejar-kejar dan dilempari penduduk kota tersebut hingga mengalami luka di beberapa tempat.

.

.

Sumber: https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/21/xi-peristiwa-isra-mi%E2%80%99raj-dan-persiapan-madinah-sebagai-tempat-hijrah/

Menghayati Sejarah Nabi

Tahun Duka Cita (‘Amul Huzni) dan Peristiwa di Tha’if (Part V)
Orang-orang biadab tersebut terus mengejar Rasulullah SAW hingga mereka berdua sampai di sebuah kebun anggur milik Uqbah bin Rabi’ah. Ditempat ini barulah mereka berhenti dan membiarkan Rasulullah SAW berlindung. Betapa sedih dan kecewanya Rasulullah SAW hingga beliau akhirnya berdoa, mengadukan perasaan dan kegundahan hati beliau sebagai berikut ini :


“Ya Allah… Kepadamu aku mengadukan kelemahan kekuatanku, Dan sedikitnya kemampuanku, Serta kehinaanku dihadapan manusia. Wahai Sebaik-baik pemberi kasih sayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau serahkan diriku, Kepada orang yang jauh yang menggangguku, Atau kepada musuh yang akan menguasai urusanku, Asalkan Engkau tidak marah padaku maka tiadalah keberatan bagiku, Akan tetapi kemurahan-Mu jauh lebih luas bagiku.”


“Aku berlindung dengan Cahaya Wajahmu yang akan menerangi seluruh kegelapan, Dan yang akan memberikan kebaikan segala urusan dunia dan akhirat, Untuk melepaskan aku dari marah-Mu, Atau menghilangkan murka-Mu dariku. Hanya pada-Mu aku merintih berharap mendapatkan Keridhaan-Mu, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu”
Begitu khusuknya beliau berdoa hingga tidak menyadari bahwa ternyata dua anak Rabi’ah memperhatikan apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Tampak jelas bahwa Sang Khalik sangat tersentuh dengan doa khusuk hamba-Nya yang sedang berduka tersebut hingga Ia kemudian berkenan menggerakkan hati si pemilik kebun untuk menyuruh pelayannya yang bernama Addas, seorang pemeluk Nasrani yang taat, agar mengambilkan buah anggur untuk diberikan kepada Rasulullah SAW dan Zaid.
Rasulullah SAW pun mengulurkan tangannya seraya mengucapkan : “Bismillahirohmanirohim.” Mendengar itu Addas bertanya: “Demi Allah, kata-kata itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk daerah ini.” Maka terjadilah percakapan antara Rasulullah SAW dengan Addas. Akhirnya Rasulullah SAW menerangkan bahwa beliau adalah utusan Allah SWT, sama dengan utusan-utusan yang dulu pernah dikirim-Nya. Seketika itu juga Addas berlutut di hadapan Rasulullah SAW, lalu mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki Rasulullah SAW hingga Rasulullah SAW terharu dibuatnya.

📝Sumber: https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/21/x-tahun-duka-cita-%E2%80%98amul-huzni-dan-peristiwa-di-tha%E2%80%99if/

Ibadah Harus Dipaksakan Awalnya

Dalam ibadah harus dipaksakan baru bisa. Kalau tidak kita paksakan diri kita “tidak paksakan shalat malam, tidak paksakan berpuasa, tidak paksakan sadaqah, tidak paksakan mengambil qur’an dari rak atau membuka aplikasi qur’an di hp dan dibaca, tidak paksakan menjenguk orang sakit, tidak dipaksakan menghadiri majelis ilmu” tidak akan pernah bisa!

Karena Menjadi Terkenal itu Sudah Terlalu Mainstream

Apa yang engkau harapkan dari pujian dan ketenaran. Jika engkau memperlihatkan dirimu semata hanya ingin dikenal banyak orang. Coba sekali lagi perbaiki niatmu.

Sudahkan kita berbagi kebaikan hanya mengharap Ridha Allah ?? Atau malah mengharap Ridha manusia ??
Mengapa kita dipuji ?? Lalu, menjadi terkenal karena kebaikan-kebaikan yang ada pada diri kita ?? Seandainya mereka tahu diri kita yang sesungguhnya. Mengerti akan keburukan-keburukan kita, maka mereka akan merasa risih dan tidak pernah ingin memuji. Semua karena Allah menutupi aib-aib kita, dan meletakan kebaikan-kebaikan. Maha baik Allah.

 

Seandainya Allah tidak meletakan kecantikan atau ketampanan pada diri kita. Apa yang bisa kita perlihatkan ?? Apa yang bisa kita banggakan ?? Ketahuilah bahwa kecantikan dan ketampanan yang kita miliki adalah titipan dan ujian.
Sadarlah, bahwa kita bukan apa-apa. Menjadi terkenal itu hanya melelahkan. Karena semua pujian tak ada gunanya. Terlebih di sosial media, jikalau setiap postingan mengharapkan banyak respon baik, dari orang-orang yang sama sekali tidak mengenal diri kita. Berharap semua like dan komentar yang baik-baik. Bercerminlah, apakah benar kita sudah sebaik yang mereka sangkakan ?? Sungguh, semua itu melelahkan.


“Seandainya engkau tahu, ternyata aku sering melanggar apa yang aku ucapkan, melanggar apa yang aku jadikan status, melanggar nasehat yang sering aku share, tentu engkau akan tidak simpati setiap melihatku.”


“Seandainya engkau tahu, ternyata aku sering bermaksiat tatkala sendiri, tatkala hanya berdua saja aku dan Allah yang tahu, tentu engkau akan meludah di tempat atau bahkan di mukaku.”

 

Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau kalian mengetahui dosa-dosaku maka tidak akan ada orang yang berjalan di belakangku (mengikutiku) dan sungguh kalian akan melemparkan tanah di atas kepalaku, ……..” (HR. Hakim)

 

(Source : Rizka Maulidya Putri @elghurabaa @wanitasalehah)

Menghayati Sejarah Nabi

Tahun Duka Cita (‘Amul Huzni) dan peristiwa di Tha’if (Part IV)

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah SWT”. (Al-An’am: 33)

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah SWT. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu”. (Al-An’am: 34)

“Dan jika keberpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu`jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah SWT menghendaki tentu saja Allah SWT menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil”. (Al-An’am:35).

Namun demikian Rasulullah SAW menyadari bahwa dakwah harus dijalankan secara maksimal. Manusia harus berusaha mencari jalan bagaimana mengajak kepada kebaikan. Situasi dan kondisi kota Mekkah tanpa adanya perlindungan dari seseorang yang memiliki wibawa dan pengaruh kuat terhadap masyarakat akan sangat sulit.

Rasulullah SAW akhirnya memutuskan menuju Tha’if, kota peristirahatan sejuk di bukit dimana sebagian pembesar Mekkah melewatkan waktu santainya. Di kota yang berjarak 70 km dari Mekkah inilah Rasulullah SAW akan mencari perlindungan dan dukungan dari bani Tsaqif. Siapa tahu dalam keadaan santai hati mereka bisa lebih lunak dan lembut sehingga ayat-ayat Allah SWT bisa lebih mengena, begitu pikir Rasulullah SAW. Maka berangkatlah beliau dengan ditemani Zaid bin Haritsah. Sepuluh hari lamanya mereka menetap di Tha’if.

Tetapi apa yang terjadi sungguh menyakitkan. Selama sepuluh hari itu tak satu orangpun mau mendengarkan ajakan beliau. Para pembesar itu tidak hanya menolak ajakan Rasulullah SAW dengan kasar namun bahkan memerintahkan para preman dan budak untuk melempari beliau dengan batu hingga mengakibatkan luka-luka di kedua kaki beliau. Zaid berusaha melindungi tetapi kewalahan dan malah terluka di kepalanya.

 
📝Sumber: https://vienmuhadisbooks.com/2011/06/21/x-tahun-duka-cita-%E2%80%98amul-huzni-dan-peristiwa-di-tha%E2%80%99if/

Perception

Semakin kita bertambah usia, semakin kita mengerti apa itu arti kehidupan. Tentunya memang usia bukan patokan seseorang untuk tumbuh menjadi pribadi yang dewasa sih. Tapi gua belajar dari banyak orang yang gua temui, bahwa “people nowadays” selalu mencurhatkan segala keluh kesahnya ke ranah dunia maya (mungkin gua salah satunya). Dari situ sudah terdeskripsikan bagaimana seseorang itu berdasarkan apa yang mereka posting. Persepsi sih, karena dunia maya itu ada berbagai macam persepsi, kompleks, rumit. Banyak belajar sih, intinya gua cuma gamau orang2 tau klo gua lagi sedih, galau, gundah gulana dari postingan gua. Gua cuma pengen berbagi kebahagiaan aja, gua pengen orang2 taunya gua bahagia terus. Sebagai pengingat untuk terus bersyukur. Lagi, kita punya Allah kok buat mencurahkan semuanya, coba deh, it works!!!

“…innama asyku batsi wa huzni ilallah….” ….hanya kepada Alloh aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku… (QS. Yusuf 12:86)

Kemuliaan dalam Dakwah

Oleh : Dr. H. Sayid Qutub, S.Kom, S.Th.I, MA, M.Si, M.Pd, Al Hafizh
Materi SII Kelas Lanjutan ACORD

Makna kata dakwah dalam Al-Qur’an

  1. Mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran Q.S. Ali Imran (3): 104
  2. Mengajak Manusia kepada jalan Allah (Q.S. an-Nahl (16): 125):
  3. Mengajak manusia kepada agama Islam (Q.S. as-Shaf (61): 7)
  4. Mengajak manusia kepada jalan yang lurus (Q.S. al-Mukminun (23): 73);
  5. Memetuskan perkara dalam kehidupan umat manusia, kitabullah dan sunaturrasul (Q.S. an-Nur
    (24): 48 dan 51 serta Q.S. Ali Imran (3): 23):
  6. Mengajak ke surge (Q.S. al-Baqarah (2): 221)

 

Apa itu dakwah?

  • Dakwah secara bahasa adalah berarti seruan, dan ajakan
  • Menurut istilah pengertiannya banyak sekali, di antaranya menurut syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan yang dibawa oleh para rasulNya dengan cara membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan

 

Landasan Hukum

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.” (Ali Imran:104)

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda, “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, kalau tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya, kalau tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.”

 

Dakwah merupakan Prasyarat Khairu Ummah

“Kamu semua adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110).

Tiga syarat memenuhi predikat umat yang terbaik yaitu:

  1. Menyuruh kepada yang ma’ruf
  2. Mencegah dari yang mungkar, dan
  3. Mau beriman kepada Allah.

 

Dakwah merupakan pekerjaan terbaik

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”(Fushshilat: 33)

“Sungguh jika Allah memberi petunjuk kepada seseorang melalui engkau (dakwah engkau) maka itu lebih baik bagimu daripada engkau memiliki onta merah.” (HR. Muslim)

 

Cara berdakwah…?

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

“Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala sama dengan yang mengerjakannya.” (Al-Hadits)

 

Kapan Berdakwah ?

3 M :

  1. Mulai dari Hal yang Kecil
  2. Mulai dari Diri Sendiri
  3. Mulai Hari ini

 

Konsekuensi menjadi Da’i

  • Punya amunisi
    “Faqidu Syai’in Laa Yu’thi…”
    “Orang yang tak punya apa-apa, tak bias memberi…”
  • Ilmu
  • Akhlak
  • Sabar

 

Siapa yang Harus Dakwah ….?

  • Secara umum adalah setiap muslim yang berdakwah sebagai kewajiban yang melekat tidak terpisahkan dari misinya sebagai penganut Islam.
  • Secara khusus adalah mereka yang mengambil keahlian khusus dalam bidang dakwah Islam, dengan kesungguhan luar biasa dan dengan qudrah hasanah.

 

Tujuan Dakwah

  1. Untuk menghidupkan hati yang mati (Q.S. al-anfal: 24)
  2. Untuk mendapatkan ampunan dan menghindari azab Allah (Q.S. Nuh:7)
  3. Untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya (Q.S.ar-Ra’d: 36)
  4. Untuk menagakkan Agama (Q.S. asy-Syura: 13)
  5. Untuk menuntun ke jalan yang lurus (Q.S. al-Mukmin: 73)
  6. Untuk menghilangkan penghalang sampainya ayat Allah ke dalam hati masyarakat (Q.S. al-Qashash:87)
  7. Untuk mencapai kebahagian hidup di dunia dan diakhirat serta menghindarkan diri dari api neraka

 

Pilihan untuk tergabung dalam suatu Lembaga Dakwah bukanlah sebuah pilihan yang biasa dari orang biasa… melainkan pilihan luar biasa dari orang luar biasa. Karena kerja yang dilakukan didalamnya bukanlah hanya kerja-kerja organisasi, melainkan juga merupakan Jalan Hidup (Way of Life) yang telah ditempuh para Rasul dan Penyeru kebenaran dari Zaman ke zaman… Yakinlah saudaraku!