Hey Kamu…

Hey kamu yang namanya selalu kusebut dihadapanNya, jaga diri baik-baik ya, karena tanganku tidak cukup sampai untuk menjangkau dan menjagamu. Kamu yang selalu menghiasi barisan doa-doaku, aku hanya bisa menjagamu lewat bait-bait doaku dan kutitipkan kepada pemilikMu. Jika nanti kita telah bersama, pun sama demikian yang akan kulakukan. Jika nanti kita sudah satu atap, pasti barisan doa-doa akan bertambah pula, selain sesuatu yang bisa diikhtiarkan, hanya doalah yang menjadi kepasrahanku. Semoga kita selalu berjalan beriringan menuju JannahNya. aamiin

for my future husband

Jakarta, November 17, 2017 | 4:48 AM

Advertisements

Permasalahan di Jakarta

Dewasa ini, Jakarta yang “katanya” kota metropolitan plus ibukota Indonesia ini semakin hari semakin semerawut, berawal dari tadi pagi ketika berangkat menuju sekolah, berangkatnya mah sesuai seperti biasanya, tapi apa daya dan qodarullah terkena hal-hal yang di luar keinginan. Ingin rasanya ku berteriak (lebay) tapi cuma bisa istighfar, terus ngebatin “Ya Allah punya dosa apa ya, pagi-pagi dapet ujian kaya gini, ampuni hamba Ya Allah”, sambil terus istighfar. Usut punya usut, traffic jam yang dimulai dari UKI hingga ga abis-abis sepanjang jalan menuju kalimalang dan ketika akan berbelok ke kalimalang jalanannya ditutup dong, bagus banget, langsung puter otak, jalan mana yang harus saya lalui, kemudian langsung tlp temen di sekolah (naro hp diselipin ke helm terus sambil terus jalan mengendarai motor (multitasking kan? haha biasa aja ya) untuk minta saran harus lewat mana menuju sekolah dan titip pesen kalau telat karena hari ini jadwal saya piket. Saya yang notabenenya sering kemana-mana sendirian dengan “teman setia” si bepe, tapi tetep aja ga ngerti jalan alias lupaan harus lewat mana-mananya, dan ga ngerti juga tadi kenapa jalan kalimalang ditutup. Tapi emang sih kemacetan di Jakarta ini terjadi di semua lini, jadi keinget waktu pernah diskusi dengan seorang teman ikhwan ketika pulang bareng setelah maghrib menunggu CL karena habis menghadiri halal bihalal dengan teman ngaji, beliau membuka percakapan sambil menunggu CL datang “rita, menurut kamu kenapa sih di Jakarta ini permasalahannya ga kelar-kelar? aku suka bete sama jalanan ibukota, makanya aku lebih suka naik CL”. sayapun mulai menanggapi “mungkin karena pemilik kendaraan pribadi makin banyak kang”. Beliau terlihat sepakat dengan jawaban saya lalu mulai menanggapi lagi “kenapa juga banyak yang beli kendaraan mudah banget”. Lalu saya menjawab “karena sekarang banyak dealer-dealer yang bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pembiayaan untuk bisa mempermudah proses pembelian, mereka berlomba-lomba memberikan fasilitas ini, benefit ini itu hingga calon pembeli tertarik, terus juga mereka udah hopeless banget sama transportasi di Jakarta yang ga ramah, CL mungkin termasuk”. Kemudian beliau bilang “nah itu dia rit akar permasalahannya, tau ga, mungkin juga Jakarta ga tuntas-tuntas masalahnya diakibatkan dosa riba”. Saya dengan polosnya bilang “loh apa hubungannya dengan riba kang?”. Beliau menjawab “ya ada banget lah rit, orang-orang sekarang berlomba-lomba buat bisa beli kendaraan dengan sistem itu, tau kan sistem itu sistem riba yang sesiapa pelaku riba berarti menabuhkan genderang perang dengan Allah, mungkin itu salah satunya, Allah ga ridho, makanya masalahnya ga selesai-selesai”. Kemudian obrolan kami terhenti karena CL yang kami tunggu sudah datang, lalu beliau mempersilahkan saya duduk dan beliau berdiri di depan saya, lalu saya tertidur hehe maap kang. Itu terakhir bertemu beliau ketika beliau masih status jomblo fisabilillah hehe. Kemudian kami tidak pernah bertemu lagi karena saya sudah jarang datang untuk pengajian dikarenakan waktu itu sering sekali dinas luar kota. Pernah sesekali beliau chat “rita, ga masuk? sepi nih, mau lanjutin diskusi waktu itu”. Terus karena lagi hectic banget dikerjaan, sampai saya lupa bales chat beliau hehe. Setelah itu kami lost contact sekitar 3bulanan dan ternyata di grup ada undangan, dan itu dari beliau hehe, hancur hati adek kaaannnggg (ga deing biasa aja). Cuma kehilangan temen diskusi sih, soalnya diskusinya belum selesai. Ini kenapa jadi curcol kesana hehe. Ya intinya ada benarnya juga apa yang dibilang beliau, sistem riba sudah merajalela memudahkan segalanya, walaupun saat ini saya masih terjerat dosa riba yang awalnya tidak saya ketahui karena saya hanya melanjutkan pembayaran, Ya Allah semoga Engkau mengampuni dosa-dosa mereka, mereka hanya tidak ingin melihat anaknya kesulitan Ya Allah, mereka hanya belum mengetahuinya Ya Allah. Sebelum tulisan ini ditutup, cuma mau ngingetin firman Allah ini “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa” (QS. Al-Baqarah (2) : 276). Ini adalah hukuman di dunia bagi pelaku riba, yaitu Allah akan memusnahkan atau menghancurkan hartanya. “Menghancurkan” ini ada dua jenis. Pertama, menghancurkan yang bersifat konkret. Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan (yang tidak sedikit) atau ada keluarga yang jatuh sakit serupa dan membutuhkan biaya pengobatan yang banyak. Atau hartanya terbakar, atau dicuri orang. Akhirnya, harta yang dia dapatkan habis dengan sangat cepatnya. Keduamenghancurkan yang bersifat abstrak, yaitu menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang fakir miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya. Dia simpan untuk ahli warisnya, namun dia sendiri tidak bisa memanfaatkan hartanya. (Lihat penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Shalihin, 1/580 dan 1/1907). Nah permasalahan di Jakarta ini karena sudah banyak pelakunya, Allah turunkan bencana di Jakarta ini dengan tidak selesai-selesainya problematika traffic jam. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan, sebenarnya semua tulisan yang ada di blog ini, baik tulisan saya sendiri atau copas dari orang hanya sebagai reminder untuk diri saya pribadi dan teringat juga akan ceramah salah satu ustadz bahwa sosmed kita harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya karena ini salah satu media untuk menghisab amalan kita, karena apa yang ditulis akan dihisab, maka tulislah atau share lah yang baik atau berfaedah. Selamat malam, selamat beristirahat.

Thursday, November 16, 2017 | 8:57 PM

Santai Saja…..

Santai saja ritaaaaaaa, ga ada yang kekal di dunia ini. Termasuk apa yang kamu rasakan hari ini, hadapi, hadapi, hadapi, semua pasti berlalu, sabaaaaarrrrrr. Gak akan lama lagi, semua itu akan berlalu seperti debu yang tertiup angin, wuuusssss. Bukan mau ngeluh sih tapi cuma mau bilang lelah (udah itu aja!). Kalau kata ilmu kedokteran, lelah adalah ketika terjadi penumpukan asam laktat (ini lelah apa pegel? hahahaha). Terus ada juga para ahli yang bilang kalau lelah itu ialah gejala yang ditandai dengan adanya perasaan dan penurunan kesiagaan. Terus teori lain bilang, lelah itu adalah suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk menghindari kerusakan lebih lanjut atau bisa juga diartikan sebagai sesuatu keadaan dimana terjadi penurunan efisiensi dan ketahanan tubuh dalam melakukan aktifitas. Ribet ya? Hahahahahaha. Okelah apapun definisinya tentang si lelah itu ada satu statement yang bisa menguatkan saya “pahalamu sesuai dengan kadar lelahmu. (HR. Muslim)”. Mungkin hanya belum terbiasa ya, pantes aja sih kata Allah pahalanya besar sesiapa yang mengamalkan ilmunya, dari jaman dulu sampai sekarang, problematika yang dirasakan pasti sama, tapi untungnya ada angin segar itu yang ngebuat jadi ga terlalu down banget, apalagi sekarang lagi mau hajat, apa-apa ngurus sendiri dan bener-bener hectic banget harus pinter-pinter jaga kondisi badan. Ini lagi ngedrop banget sebenernya tapi ga dirasain, harus multitasking banget pokoknya mah. Urus ini urus itu, harus kerjain ini kerjain itu. Tapi Allah tuh keren ya, Dia menciptakan makhluk halus bernama wanita dengan segala kelebihannya, multitasking hahahaha. Apa aja dikerjain, disambi ini disambi itu. Semoga lelahku hari ini dan seterusnya menjadikanku mulia di mata Allah. aamiin
Semangat mba ritaaaaaaaa

You can do it, you’re not alone because Allah always with you.
Note : bukan buat ngeluh kok, cuma reminder aja
Wednesday, November 15, 2017 | 8:40 PM

Tangan Gagah

Kumohon jika kelak engkau telah halal untukku dan saat itu kau menemukan kebiasaan burukku, jangan marah perihal itu yaaaaa. Tegurlah aku tapi jangan pasang muka tak manis mu itu yaaaaa. Perlu kau tau, wanita mu ini perempuan yang tal sempurna, karena ketika menikah, kau harus siap dengan segala kekuranganku

Tangan gagah

Bagaimana nanti kau tau bahwa aku tak pandai berdandan? Mungkin kau akan melihat wajahku yang biasa tanpa polesan banyak warna. Apa kau akan marah? Ah semoga kau lelaki yang tak rela wajah istrimu dipandang sembarang orang

Tangan gagah

Jika kelak wanitamu ini masih mundur-mundur ketika memasak ayam atau ikan? Jangan melihatku dengan tatapan aneh yaaaa. Percayalah aku tidak akan mundur untuk belajar lebih baik

Tangan gagah

Aku ini perempuan yang cemburu, namun ada satu wanita yang takan membuatku cemburu walau kau sedang berduaan dengannya, pun melihat kau menghabiskan malam untuk mendoakannya. Ya, wanita itu adalah ibumu, perempuan yang telah merawat dan membesarkanmu hingga menjadi lelaki yang baik. Karena ada satu persamaan antara aku dan ibumu yaitu sama-sama mencintaimu.

Tangan gagah

Ketika kau menikahiku, kau harus sudah siap bersama dengan kekuranganku, tangisku, tawaku, marahku, keluargaku dan segala yang ada pada diriku

Tangan gagah

Jadikan Allah sebagai alasan memilihku. Jadikan aku sebagai satu-satunya untukmu seperti Rasulullah kepada bunda Khadijah

Tangan gagah

Temani aku dengan keimananmu yang setia padaNya. Izinkan aku mencari surgaku melalui dirimu.

@perempuanbiasa

Menikah dengan yang “Sekufu”

Oleh : Maghleb Yudinna Elmir
Membutuhkan waktu 5 tahun pernikahan bagi saya untuk memahami dan menerima idiom yang tertulis pada judul di atas. Dahulu saya acap kali merasa kata “ga sekufu” tersebut agak offensive judgemental, mungkin karena memang sering dipakai oleh orang ketiga untuk pasangan yang akan atau baru saja menikah, merasa salah satunya kurang pantas bersanding dengan yang satunya lagi.

Seringkali dalam arti sempit, sekufu diartikan sebagai pasangan yang sama-sama idola, sesama elok rupa, sesama petinggi organisasi, dan (mungkin paling sering) sama level alimnya, penilaiannya hanya dari sedikit atau paling tidak satu aspek saja, yang tampak di muka.

Sedikit curhat.

Saya dulu seringkali minder, karena waktu abis menyebar undangan nikah via sosmed, sontak teman-teman Uda banyak yang nge-add saya sebagai temannya. Pengen kenal dan yang saya yakini lagi adalah pengen menilai, seberapa pantas saya bersanding dengan Beliau. Beberapa kali setelah itu, saya sering melihat status dari teman-teman baru yang belum kenal di dunia nyata tersebut, seperti “ah ternyata cewe biasa”, atau “duh kok gak sekufu ya?” yang berseliweran, hahahaha i’m too sensitive :p
Andai benar hal tersebut ditujukan buat saya, mereka gak pernah tau, betapa strugglingnya saya berusaha terlihat pantas pada awal-awal pernikahan kami.
Alhamdulillah saya berhasil keluar dari jebakan judgemental tersebut. Tapi saya tau, ada beberapa orang yang menyerah, merasa kalah dan hal tersebut benar-benar mempengaruhi kehidupan pernikahannya. Kasian kan?
Nah, balik lagi ke topik, saya sendiri lebih suka memaknai kata “well deserved”.

Ketika seseorang belum menikah, saran saya carilah seseorang yang well deserved buat kamu, inside, outside.

Buat yang merasa minder dari calon pasangan, carilah apa hal-hal yang kamu lebih hebat dari dia. Buat kelebihan tersebut jadi penting dan matters buat kamu dan dia. Sehingga kamu dan dia akan lebih menghargai dirimu. Jangan terjebak dengan pikiran minder karena gak akan ada habisnya, serta menyamarkan apa tujuan dan fokus yang lebih penting. Sebagai mantan orang minder, i can say, capek loh nikah sama orang minder karena kita akan banyak menghabiskan waktu untuk meratapi diri sendiri, bukan pada tujuan bersama.

Vice versa, buat yang merasa lebih dari calon pasangan, kuncinya percayalah bahwa Tuhan ga akan ketuker ngasih kita pasangan hidup. it takes time to figuring out kekuatan pasangan kita yang bisa jadi adalah titik terlemah kita atau jika masih merasa bahwa you deserve more, ya selama gak nge-PHP-in anak orang, ya go ahead cari yang dirasa pantes. Tapi ingeeettt, hasrat mencari yang terbaik itu ga ada abis-abisnya.

Buat yang sudah menikah, bisa masih merasa pasangan “kurang pantes” buat kita, coba diinget dosa-dosa dan perbuatan buruk kita di masa lalu. Naahh, itu tuh mungkin yang membuatnya break even atau bisa jadi di masa yang akan datang, Tuhan ngebalikin semuanya, semua yang baik-baik datang dari pasangan kita, kan Tuhan Yang Maha Tahu, past, present and beyond.

Eh tapi sebaik-baiknya perbuatan setelah menikah menurut saya adalah bersyukur, no matter what. Dalam agama saya, saya percaya janji Allah yang akan menambah kenikmatan bagi siapa saja yang bisa bersyukur.

Nah yang lebih penting lagi adalah yuk kita sebagai pihak ketiga dan orang luar yang senang komentarin pasangan lain, saling ngingetin

  1. Kita gatau apa-apa, yang tampak luar saja bisa salah lihat, apalagi yang di dalam. Who we are to judge?
  2. Suportif dan menguatkan. Kalau teman kita curhat, baiknya menyarankan hal-hal yang menguatkan komitmen pernikahan atau jika susah, didengar saja, jangan dikomentarin, apalagi dikomporin
  3. Lebih baik mensyukuri pasangan dan pernikahan sendiri. Jika ada cerita buruk dari teman, jadikan pelajaran, ada cerita baik, jadikan teladan

 

Note ini buat saya sebagai self reminder, betapa saya beruntung dipilihkan dengan Uda sekaligus merasa well-deserved untuk Beliau selama 5 tahun menikah. Mohon maaf jika banyak sotoynya dalam proses ini, dan mohon doanya semoga pernikahan kita semua bahagia dan selamat dunia akhirat. aamiin

link fb : https://www.facebook.com/notes/maghleb-yudinna-elmir/menikah-dengan-yang-sekufu/10152665504908277/

Manajemen Marah

Jika kita mencermati ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kita jumpai begitu banyak pembahasan yang berbicara mengenai akhlak. Hal ini menunjukkan akhlak mendapatkan porsi yang besar dalam agama. Mengetahui akhlak-akhlak buruk sama pentingnya dengan mengetahui akhlak-akhlak baik. Bukan dengan maksud untuk mengamalkannya, tetapi untuk menjauhinya.

 

Salah satu akhlak mulia yang patut diamalkan adalah menahan amarah, sebaliknya akhlak buruk yang selayaknya dijauhi oleh setiap muslim adalah mudah meluapkan amarah. Patut diketahui bahwasanya sifat marah adalah sifat yang sudah ada dalam jiwa manusia. Setiap orang memiliki potensi untuk marah. Tetapi ketika seseorang sedang marah maka hendaknya dia mengontrol jiwanya agar tidak melampiaskan kemarahannya dengan berkata-kata buruk, memukul, atau hal-hal lainnya yang dilarang oleh syariat.
Sebagaimana dalam hadits yang masyhur, ketika ada sahabat Nabi yang datang kepada Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata:

 
أَوْصِنِيْ، قَالَ: لَا تَغْضَبْ، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لَا تَغْضَبْ
“Berilah wasiat kepadaku!” Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan: “Jangan marah!“. Lelaki ini berulang-ulang meminta wasiat dan  Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam tetap mengatakan: “Jangan marah!“ (HR. Bukhāri no. 6116)
Hadits ini menunjukkan akan pentingnya menahan amarah, karena menjadi salah satu wasiat khusus Nabi di samping wasiat-wasiat lainnya. Menahan amarah juga mendapatkan pujian khusus dari Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

 
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ
“Bukanlah orang yang kuat adalah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan jiwanya ketika dia sedang marah” (HR. Bukhari no.6114 dan Muslim no.107)
Kekuatan tidak dipuji karena sekedar kekuatan fisik semata, jika memang demikian niscaya yang lebih pantas dipuji adalah singa, macan, gajah, dan hewan-hewan yang lebih kuat dari manusia. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji seseorang yang bisa mengontrol dirinya ketika muncul kemarahan di dalam jiwanya. Orang kuat yang sejati adalah orang yang tatkala dia marah dan dia mampu untuk melampiaskan, dia bisa mengontrol jiwanya dan tidak melampiaskannya. Inilah diantara sifat mulia yang patut dilatih, sebuah sifat yang bisa meyebabkan masuk ke dalam surga. Sebagaimana Allah Ta’ala menyebutkan sifat penghuni surga di dalam Al-Quran,

 
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134)
Yang dimaksud dengan meredam amarah adalah berusaha menghilangkan amarah, bukan menyimpannya dan membiarkannya semakin bergejolak di dalam dada.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa tips untuk meredam amarah, diantaranya:

 

Berta’awudz kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla
Salah satu amalan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mulai muncul marah di dalam diri yaitu segera berta’awudz (memohon perlindungan) kepada Allah. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seseorang yang sedang marah sampai urat lehernya mengembang karena saking marahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan:

 
إِني لأعلمُ كَلِمَةً لَوْ قالَهَا لذهبَ عنهُ ما يجدُ، لَوْ قالَ: أعوذُ بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ، ذهب عَنْهُ ما يَجدُ
“Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang jika orang itu mengucapkannya maka akan hilang kemarahannya, (yaitu) seandainya dia berkata: ‘a’ūdzubillāhi minasy syaithānirajīm’ (aku memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk). Hilang apa yang dia rasakan.”(HR. Bukhari no. 6115 dan Muslim no. 109)

 

Berwudhu
Jika seseorang sedang marah hendaknya dia berwudhu dengan wudhu yang syar’i sebagaimana ketika akan shalat, dengan niat untuk menghilangkan kemarahan. Niscaya dengan hal itu Allāh akan menghilangkan kemarahan tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya kemarahan itu dari setan dan setan tercipta dari api, maka ketika salah seorang dari kalian marah padamkanlah api tersebut dengan berwudhu.” (HR. Abu Daud no. 4784)

 

Jika sedang berdiri hendaknya dia duduk
Diantara tips jika seseorang marah dalam kondisi berdiri, hendaknya dia duduk. Jika ternyata dengan duduk belum hilang kemarahannya, hendaknya dia berbaring. Hal ini disebabkan karena seseorang yang sedang marah dalam keadaan berdiri, dia bisa dengan mudah bertindak. Dia akan mudah untuk memukul, mudah untuk menendang, tangannya mudah untuk menjangkau benda-benda di sekitarnya, misalnya benda tajam atau benda keras untuk dilemparkan kepada orang yang dia marahi, dan lain sebagainya.

 

Diam ketika marah
Diantara tips yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedang marah adalah diam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ
“Jika salah seorang dari kalian sedang marah maka hendaknya dia diam!“ (HR. Ahmad no. 2136)
Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, apabila seseorang sedang marah maka hendaknya dia diam dan jangan berbicara, karena jika dia berbicara hampir bisa dipastikan bicaranya menjadi tidak terkontrol, yang menyebabkan dia mengucapkan perkataan yang tidak adil atau perkataan yang melampaui batas, yang lebih dari seharusnya.
Mengingat ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang memuji orang-orang yang meredam kemarahannya
Diantaranya yaitu firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengenai sifat-sifat penghuni surga sebagaimana yang telah berlalu. Datang pula dalam hadits, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

 
مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الخَلاَئِقِ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الحُورِ شَاءَ
“Barangsiapa yang meredam amarahnya padahal dia mampu untuk melampiaskan, maka Allāh akan memanggil dia pada hari kiamat di hadapan khalayak, sampai Allāh mempersilahkan dia memilih bidadari mana yang dia sukai.”(HR.  At-Tirmidzi no.2493)
Dengan mengingat keutamaan-keutamaan yang akan didapatkan di hari kiamat kelak bagi orang-orang yang menahan amarahnya akan membuat kita lebih mampu untuk meredam amarah tersebut.

 

 

Oleh: Zulfahmi Djalaluddin, S.Si حفظه الله
(Kontributor Bimbinganislam.com)

Sumber: https://bimbinganislam.com/akhlak-mendapatkan-porsi

 

My Promise

Bismillahirrahmanirrahim

Saya YAKIN dan PERCAYA, semua hal akan menjadi indah mulai hari ini dan orang yang paling bertanggung jawab mengubah semuanya menjadi indah adalah SAYA!

Saya YAKIN dan PERCAYA, mulai hari ini, hidup saya akan berubah menjadi lebih baik, lebih berdaya, lebih hebat dan mengagumkan dan orang yang paling bertanggung jawab atas perubahan hidup saya adalah SAYA!

Saya YAKIN dan PERCAYA, pertolongan Allah akan senantiasa menyelimuti hidup saya dan orang yang paling bertanggung jawab mengundang pertolongan Allah itu adalah SAYA!

Saya bersyukur menjadi pribadi saya yang saat ini, karena ini semua berkat Rahman dan Rahim dari Allah Subhanallah wata’ala.

Dan mulai hari ini, saya percaya jodoh terbaik saya akan datang kepada saya. Semakin hari, semakin dekat dan semakin mudah. Entah kenapa rasa itu semakin kuat dan menjadikan saya benar-benar menemukan pendamping hidup saya yang menerima saya dan saya pun menerimanya.

Mulai hari ini demi jodoh terbaikku, ku ikhlaskan rasa sakit hatiku selama ini kepada orang-orang yang pernah menyakitiku. Karena aku akan hidup dengan kebahagiaan masa depan bukan dengan masa lalu.

SAYA BERJANJI

Di blog pribadi saya ini, Allah beserta malaikatNya melihat ini dan menjadi saksi, bahwa mulai hari ini saya :

  1. Berhenti melempar kesalahan!
  2. Berhenti melempar tanggung jawab!
  3. Berhenti menjual alasan!
  4. Berhenti mencari pembenaran!
  5. Berhenti menjadi pengecut!

Dan jika saya melanggar janji saya hari ini, saya berjanji tidak mengeluhkan penderitaan hidup saya lagi!

 

 

Jakarta, Sunday, November 12, 2017 | 05:45 PM

Jangan Berharap Cinta ke Makhluk

Pokoknya mah jangan ngarep-ngarep dari makhluk

Sebab makhluk

Tiada daya

Tiada kekuatan

Kecuali Allah yang nguatin

Kalau Allah enggak menghendaki dia sayang ke kita

Enggak sayang

Kalau Allah membalikan hatinya sayang

Pasti sayang

Kalau dia ga dibikin cinta

Siapa yang bikin cinta

Ga bisa

Allah yang nanem cinta

Allah yang ngambil

Allah yang pulangin

“dulu dia cinta sekali ke saya, a”

“kok sekarang kaya kurang cinta”

Baguslah dan ga usah pusing

Kita ga usah cari cinta suami

Ga usah cari cinta istri

Ga usah cari cinta orang

Diluar kemampuan kita

Kita mah satu weh

Cari cintanya Allah

Penguasa segala-galanya

BERES!!!

Takabur

Takabur ialah kau sesumbar bahwa tubuhmu jarang sekali merasakan sakit, seperti demam, flu, batuk, masuk angin, kelelahan, terakhir sakit ketika 2 tahun yang lalu, seketika Allah turunkan kuasaNya. Astaghfirullah 😭

Allah turunkan demam kepadaku dengan suhu mencapai 39*C astaghfirullah ampunin hamba

.

Nikmat sehat itu sangat mahal

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW mengatakan bahwa sakit merupakan bentuk kasih sayang Allah SWT kepada hambaNya. Karena ketika sakit itulah Allah SWT mengutus empat malaikat secara khusus untuk menjenguk manusia. Tidak hanya melihat, malaikat ini melakukan hal yang justru akan membuat manusia bersyukur diberi musibah sakit tersebut.

Rasulullah bersabda yang artinya “Apabila seorang hamba mukmin sakit, maka Allah mengutus 4 malaikat untuk datang padanya.”

Pada keempat malaikat ini Allah memberikan perintah diantaranya:

1. Malaikat pertama bertugas mengambil kekuatan orang yang sakit sehingga ia menjadi lemah.

2. Malaikat kedua untuk mengambil rasa lezatnya makanan dari mulutnya

3. Malaikat ketiga untuk mengambil cahaya terang di wajahnya sehingga berubahlah wajah si sakit menjadi pucat pasi

4. Malaikat keempat untuk mengambil semua dosanya, maka berubahlah si sakit menjadi suci dari dosa. Namun ketika Allah SWT akan menyembuhkan orang yang sakit tersebut, malaikat 1, 2, dan 3 diperintahkan untuk mengembalikan apa yang sudah mereka ambil. Seperti kekuatannya, rasa lezat dilidah, serta cahaya orang yang sakit sehingga kembali terlihat kembali bersemangat. Namun Allah tidak meminta malaikat keempat yang sudah mengambil dosa-dosanya untuk mengembalikan dosa orang yang sakit tersebut. Maka bersujudlah para malaikat itu kepada Allah seraya berkata: “Ya Allah mengapa dosa-dosa ini tidak Engkau kembalikan?”. Allah menjawab: “Tidak baik bagi kemuliaan-Ku jika Aku mengembalikan dosa-dosanya setelah Aku menyulitkan keadaan dirinya ketika sakit. Pergilah dab buanglah dosa-dosa tersebut ke dalam laut”.

Dengan ini, maka kelak si sakit itu berangkat ke alam akhirat dan keluar dari dunia dalam keadaan suci dari dosa sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Sakit panas dalam sehari semalam dapat menghilangkan dosa selama setahun.”

.

“Tiada seorang mu’min yang ditimpa oleh lelah atau penyakit atau risau pikiran atau sedih hati sampaipun jika terkena duri melainkan semua penderitaan itu akan dijadikan penebus dosanya oleh Allah.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

.

“Jika sakit seorang hamba hinhha tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya.” (H.R. Ath-Thabarani)

.

Mungkin musibah sakit ini menjadi alarm bagi kita atau saya khususnya dan reminder juga untuk saya agar tidak takabur. Saat sakit, kita diberi waktu untuk mengingat kembali bahwa dunia hanyalah sementara.

Tuesday, October 17, 2017 | 5:50 PM

Maaf

Maaf jika pernah ada yang tersakiti oleh saya. Saya sedang membuka lembaran baru dalam hidup saya untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika sebelumnya saya berbuat salah atau khilaf, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya banyak dosa, untuk itu saya berusaha untuk lebih taat kepada Allah dan meninggalkan yang Allah tidak sukai.

Jilbab saya yang lebar ini bukan pertanda saya sudah baik, tapi karena saya ingin menjadi lebih baik, lebih sholehah untuk bekal mendidik anak-anak saya nantinya.

Maaf sekali lagi…
Oct 16, 2017 | 12:29 AM